Jumat, Desember 25, 2009

Kelompok Semoet Menggigit Kota

Enam orang perupa yang tergabung dalam Kelompok Semoet tampil dalam pameran yang mengulas persoalan dunia urban. Unik dan mengandung gugatan sosial.

TEKS : IWAN SAMARIANSYAH

DALAM jagat seni rupa Indonesia, para perupa asal Minangkabau menempati posisi yang terhormat. Banyak tokoh-tokoh penting perupa yang berasal dari provinsi Sumatera Barat itu. Sebut saja nama Wakidi (1889-1979) disebut-sebut sebagai salah satu legenda seni rupa Indonesia yang karyanya bisa disejajarkan dengan R Abdullah Suriosubroto (1879-1941) dan RM Pirngadi (1875-1936).

Wakidi yang bermukim di Bukit Tinggi, disebut-sebut sebagai seorang pelukis yang disebut sebagai orang pertama di ranah Minangkabau yang melukis teknik dan gaya baru. Selain Wakidi, dikenal pula nama-nama seperti Marah Sutan dan Muhammad Syafei, tokoh yang berjiwa seni dan membentuk banyak sosok penekun seni termasuk seni rupa di tanah Minangkabau.

Kesadaran sebagai pelukis tanah Minang itu tampaknya terbawa hingga saat mereka merantau ke berbagai kota untuk menuntut ilmu. Panggilan tanah rantau itulah yang akhirnya membuat enam perupa asal Minang yang bermukim di Yogyakarta akhirnya sepakat berkumpul. Lahirlah Kelompok Semoet yang beranggotakan pematung Abdi Setiawan dan Jhoni Waldi, pelukis Darvies Rasjidin, Denny ’Snod’ Susanto, Khairul El Kamal dan Zulkarnaini.

Usia mereka relatif masih belia, sekitar 30-an tahun. Yang paling senior tentu saja Darvies Rasjidin. ”Ya kami semua bertemu antara sengaja dan tak sengaja di tempat kami menuntut ilmu di jurusan seni murni Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. Kami berasal dari berbagai angkatan dan generasi. Kesamaan idelah yang membuat kami bertemu dalam kelompok ini,” ujar Darvies kepada saya.

Bertempat di Bika Graha Mandiri, ke enam perupa itu unjuk karya mereka, dibuka sejak 19 November 2008 dan dipamerkan selama sebulan, ditutup pada 18 Desember 2008. Sejumlah karya lukis di atas kanvas, karya patung kayu dan patung perunggu dipamerkan dalam kesempatan tersebut. Pihak penyelenggara yaitu Ide Global Art mematok harga mulai dari Rp 18 juta hingga yang tertinggi Rp 50 Juta untuk karya mereka.

Pameran bertajuk lampu merah itu dikuratori oleh Mikke Susanto. Mengapa tema pameran kali ini Lampu Merah? Bisa jadi karena karya-karya yang ditampilkan oleh Kelompok Semoet terkait erat dengan gagasan-gagasan sosiokultural. Karya-karya mereka tak jauh dari persoalan dan dunia sekitar mereka tinggal, dan kali ini sudut-sudut kota lah yang mereka bidik. Ikon utama lalu lintas kota adalah lampu merah.

Mikke Susanto menulis pada kuratorial pameran, betapa kelompok ini memaknai tema tersebut begitu serius dan intens. Sejak berpameran pertama kali di Purna Budaya, Yogyakarta pada tahun 2000 kelompok ini selalu menggigit erat kisah dan narasi perihal kehidupan sosial. Terkadang sekedar menyindir, namun kadang juga menggugat fenomena ketidakadilan sosial yang berseliweran di sekitar kita.

Pematung Abdi Setiawan secara kreatif mengungkap kehidupan anak-anak jalanan di kota melalui karya-karyanya. Anak-anak yang kehilangan masa kecilnya karena dipaksa melawan kemiskinan yang mendera mereka. Lusuh, kumuh dan menghentak. Anak-anak jalanan adalah potret kelabu kegagalan sebuah sistem kota mensejahterakan warganya. Patung-patung alumunium itu terkesan biasa, tetapi pesannya begitu jelas : tolong perhatikan kami wahai penguasa !

Berbeda dengan karya Jhoni Waldi yang banyak bermain bahasa tubuh. Mediumnya adalah patung logam bercampur kayu jati. Ciri khasnya adalah hampir semua patung manusia ditampilkan dengan kepala tanpa otak, seakan hendak menyindir bahwa manusia-manusia yang hidup di kota telah dilemahkan daya fikirnya. Hidup tanpa pikiran dan perasaan, bekerja mekanis bak mesin.

Sang pelukis senior Darvies Rasjidin seakan hendak menjadi juru bicara simbolik kelompok semoet. Dia melukis rumah-rumah semut di ujung-ujung daun pohon. Dan begitulah judul lukisannya : Di ujung-ujung Ranting #1 dan di ujung-ujung ranting #2, yang menggambarkan rumah semut yang berkabut dan berasap. Aneh, namun mengundang senyum para penikmat karya seni.

Yang paling mengundang perhatian dari karya Darvies ini adalah Randu yang tenggelam, menggambarkan sebuah kota yang terletak di atas kapas, perlahan tenggelam di lautan dalam. Permainan warnanya sungguh memikat dan mempesona. ”Isu lingkungan dan pemanasan global telah menginspirasi saya menghasilkan karya ini,” ujar Darvies kepada saya di sela-sela pembukaan pameran.

Sedangkan karya-karya lukisan Zulkarnaini dibuat dengan teknik yang tidak biasa, seperti menyaksikan klise film hitam putih. Potret kehidupan sehari-hari dalam kehidupan modern sebuah kota telah menarik perhatiannya untuk berkreasi : penumpang bus way, sayap pesawat terbang, mobil di jalanan dan permainan komidi putar. Semua dibuat dengan teknik melukis ala klise foto dengan pendaran warna dominan hijau.

Adapun Denny ”Snod” Susanto menggunakan pendekatan olahraga secara simbolik tentang sudut-sudut kota. Dia memilih bola biliard dan golf dalam semua lukisannya untuk mewakili kehidupan urban. Semua karyanya dengan gaya seperti itu mulai dari Enemy Between Us, Beautiful Game #2 dan Life Rhythm Section. Seolah memberi pesan betapa berpengaruhnya kedua jenis bola tersebut pada orang kota !

Perupa terakhir, Khairul El Kamal tampaknya menggunakan obyek yang berkaitan dengan perempuan, khususnya pekerja seks komersial (PSK). Bibir dan gincu perempuan menjadi andalannya. Itulah yang dia tampilkan pada karyanya yang berjudul A Thousand Gossips (2008) dengan visual puluhan bibir yang berjajar rapi, dalam keadaan bicara maupun diam. Atau karyanya yang lain berjudul Klien dan Tak Selamanya Indah. Semua bicara soal dunia PSK yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan malam hari di sudut-sudut kota.

Tidak ada komentar: