Sabtu, Oktober 06, 2007

Gerakan Koperasi dan Gotong Royong di AS

Komunitas Makmur pun Terbentuk

Oleh : Abang Rahino
sanggarkertas@gmail.com

SELAMA ini masyarakat Amerika, dan negara Barat pada umumnya, sering kita anggap sebagai masyarakat individualis. Jauh dari budaya gotong-royong. Dalam beberapa hal bisa benar, tetapi dalam hal lain bisa juga salah. Buktinya, di sana ada komunitas yang hidup makmur dengan koperasi dan tradisi gotong-royong.

Kita seperti terbius menyaksikan semangat kewirausahaan individual dan iklim bisnis bebas merdeka telah melahirkan perusahaan-perusahaan raksasa macam Ford, Microsoft, Kodak, Coca Cola, Pepsi, IBM, maupun 3M. Namun, di Amerika ternyata ada gerakan koperasi yang berazaskan kekeluargaan dan gotong-royong seperti cita-cita Bung Hatta di Indonesia. Paling tidak itu yang saya lihat di kehidupan beberapa komunitas di lima negara bagian Negeri Paman Sam.

Audit superketat
Di wilayah Laton, dekat Bakersfield, Kalifornia - sekitar 3,5 jam perjalanan darat ke arah Timur dari Los Angeles - saya sempat berbincang-bincang dengan Tony Cunha (baca: Kunya). Ia termasuk peternak "gurem" dengan seratus ekor sapi perah. Sebelum berusaha sendiri, ia ikut pamannya yang memiliki ribuan sapi perah. Untuk meningkatkan taraf hidupnya, Cunha, yang asli Meksiko, bergabung dengan sebuah koperasi sapi perah. Dari sinilah ia bisa memiliki 100 ekor sapi. Untuk memperoleh itu semua ia hanya menyediakan dana sekitar 35%-nya. Dalam menjalankan roda peternakannya, ia memperkerjakan seorang karyawan. Karyawan lain, ya, dia dan istrinya.

Lahan rumput yang luas untuk menggembalakan sapi-sapinya juga diperoleh melalui koperasi. Manajemen dan teknik-teknik yang belum dia kuasai di bidang ternak sapi perah juga ditimbanya dari koperasi. Termasuk cara menggilir petak-petak padang rumput yang ditanami kekacangan untuk dimakan sapi-sapi perah nan gemuk. Tentu, dasar pertimbangannya adalah iptek.

Ketika saya bercerita tentang koperasi di Indonesia, Cunha tertawa-tawa. Apalagi ketika tahu plesetan KUD yang bukan Koperasi Unit Desa, tapi Ketua Untung Duluan. Namun, buru-buru ia menyela, "Mana bisa jika mereka kerja di sini, ... apa dia mau dipecat karena sistem audit kami sangat ketat diawasi dalam hitungan hari," katanya bangga.

Saat itu, koperasinya sedang melakukan negosiasi tahap akhir dengan Mitsui untuk membangun pabrik susu bubuk, sesuatu yang tidak populer di Amerika. "Tampaknya, Mitsui mau ikutan dengan kami dalam bisnis ini," katanya. Wah, hebat juga. Mana ada koperasi di sini yang punya gigi untuk bernegosiasi dengan perusahaan kelas dunia macam Mitsui!

Ketika saya diajak teman berputar-putar di sana, sejauh mata memandang terhampar lahan pertanian dengan segala jenis tanaman. Ada bunga mawar seluas ratusan hektar, ada juga perkebunan bit gula. Semua jenis usaha tanaman itu dimiliki para petani yang tergabung dalam koperasi dan dibudidayakan dengan teknologi tinggi. Bahkan dilengkapi pula dengan laboratorium penelitian dan pengembangan.

Koperasi juga memiliki dan mengelola mesin pencabut umbi bit yang disebut combine harvester. Ukurannya sebesar tiga atau empat kali rumah tipe 36. Si combine, begitu orang Amrik menyebutnya, hanya perlu seorang operator. Daya tahannya tinggi. Untuk diajak bekerja nonstop oke-oke saja. Truk penadah pulang-pergi sambil berjalan di samping combine.

Sangat sosialis
Di negara bagian Illinois dan New York, saya juga sempat mengunjungi dua kelompok masyarakat yang menyebut diri mereka sebagai intentional community (IC). Mereka menerapkan pola kehidupan sosial ekonomi seperti penganut gereja purba di abad pertama dan kedua. Tidak ada kepemilikian pribadi, kecuali pakaian, obat-obatan, dan jenis-jenis barang yang sangat pribadi lainnya. Bisnis dan kehidupan sosial mereka atur bersama dengan mengumpulkan semua harta milik mereka menjadi milik komunal. Sosialis? Ini Amerika, Bung!

IC tersebar di beberapa daerah dengan kegiatan masing-masing. Masyarakat Bruderhoff yang lahir di Jerman pada tahun 1930-an misalnya, tersebar di New York, Pennsylvania, Australia, Paraguay, dan Inggris. Mereka dikenal sebagai pembuat dan pengekspor mainan pendidikan, alat-alat bantu penderita cacat seperti kursi roda, dan juga alat-alat rumah sakit.

Kelompok lain berpusat di Chicago. Mereka punya bisnis konstruksi dan jasa hiburan. Di Tiskilwa, Illinois, ada kelompok lain yang menggarap lahan pertanian rasberi, melon, dan produk lain. Sedangkan di Minneapolis ada IC yang memiliki bisnis inti di bidang penerbitan. Ketika itu, kelompok tersebut dipimpin oleh seseorang yang sebelumnya pernah lama bekerja di Jawa Tengah.

Ada juga kelompok yang pola hidupnya sangat konservatif seperti masyarakat Huterite. Kelompok semacam itu ada ratusan jumlahnya di seluruh AS, Kanada, dan beberapa negara Barat. Kehidupan ekonomi mereka makmur merata. Kehidupan sosialnya sangat jauh dari sikap individualistis dan mau menangnya sendiri. Saya yakin, tingkat sosialis mereka melebihi sosialisme di Cina. Mereka pencinta damai dan anti-perang secara radikal, pencinta lingkungan, pembela HAM yang gigih tapi tidak banyak omong, antirasis, dan jarang bertindak kriminal.

Produktivitas mereka juga tinggi. Salah satunya karena semua orang dewasa menjadi pekerja penuh waktu. Tidak ada pengangguran di antara mereka. Di beberapa kelompok, bahkan tidak ada istilah pensiun. Tidak adanya pengangguran mematahkan "iman" kapitalisme yang percaya pada trickling down effect di bidang penyediaan lapangan kerja. Mereka memang setengah mencibir pada filsafat ekonomi sebagian besar saudara-saudara sebangsanya.

"Kuncinya terletak di sini," kata John Trapnell dari Bruderhoff sambil menunjuk dadanya. Yang dimaksudkan adalah hati yang tulus dan bersih. Seluruh kelompok IC memang mengatur kehidupan perekonomian mereka dengan koperasi.

Relawan siap membantu
Apa yang bisa dipetik dari suburnya koperasi dan tatanan kehidupan IC tadi? Setidaknya, kita bisa mengaca pada cermin Amerika dari sisi lain. Di masyarakat yang sudah kadung dikenal sebagai masyarakat individualis dan liberal, tampak kehidupan gotong-royong menyelinap di antaranya.

Saya sempat "bekerja" sehari dengan mereka; memperbaiki rumah-rumah penduduk di daerah kumuh Philadelphia. Kota yang lumayan besar ini merupakan kota di Negara Bagian Pennsylvania yang memiliki banyak masalah. Kerja gotong-royong di sini bukanlah seremonial belaka, tetapi betul-betul memperbaiki rumah rusak milik mereka yang tidak mampu. Kegiatan rutin semacam ini dikoordinasikan oleh masyarakat Quaker.

Sebuah museum sejarah kota di Palmer Lake, Colorado, dikelola oleh masyarakat secara bersama. Mereka berembug bagaimana memelihara dan mengembangkan museum itu. Masih di kota yang sama, saya ikut merasakan nyamannya sebuah art centre bernama Tri Lakes Center yang dikelola bersama oleh masyarakat setempat. Sederhana memang, namun dari sini penduduk setempat bisa memasyarakatkan seni dan mendorong timbulnya apresiasi terhadap karya seni. Difasilitasi oleh Jina Pierce, saya sempat ikut dua lokakarya seni cat air dan seni gerabah.

Saya juga mengikuti Pertemuan Dewan Kota dan masyarakat yang berlangsung sangat demokratis, kekeluargaan, sangat informal, dan menunjukkan semangat tolong-menolong. Padahal topik-topiknya termasuk sulit, seperti menyangkut rasa ketidakadilan yang dirasakan oleh beberapa keluarga.

Di Chambersburg, Pennsylvania, beberapa dinas kota dibentuk dengan cara rembugan. Anggota Dinas Pemadam Kebakaran, misalnya, adalah para relawan tanpa bayaran. Urusan sampah jalanan dan pemeliharaan jalanan kota juga diatur bersama-sama. "Saya di sini jadi cleaning lady," kata Sharon Swartzentruber, wanita yang pernah bekerja sebagai wakil direktur sebuah LSM di Papua dan Jakarta selama delapan tahun, dengan bangga.

Relawan tanpa bayaran juga bertugas sebagai "Pak Ogah" yang mengatur lalu lintas pada jam-jam sibuk pagi, siang, sore. Namun, jangan membayangkan mirip Pak Ogah di sini yang OD, orientasinya duit. Seperti yang terlihat di kota kecil Akron, yang menjadi "Pak Ogah" di sini bukan remaja tanggung bermuka galak, melainkan bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah pensiun. Selain mengatur lalu lintas, mereka juga menolong anak-anak atau siapa saja untuk menyeberang jalan. Maklumlah, kota kecil itu hanya memiliki satu lampu bang-jo (traffic light).

Pola rekrutmen relawan diterapkan di beberapa daerah. Mereka yang diterima sebagai relawan akan membantu proses belajar-mengajar di sekolah-sekolah, terutama bagi para pelajar yang mengalami kesulitan dalam belajar. Jangan dikira relawan ini adalah pendidik profesional atau mereka yang pandai mengajar. "Yang paling diperlukan adalah sekadar menemani dan mendorong anak dalam kesulitan mereka belajar, bukan materinya," kata Nancy Graber yang sudah berusia 51 tahun. Graber adalah guru seni di sebuah SD di Colorado.

Jadi, dengan melihat praktik hidup yang penuh gotong-royong di berbagai tempat tadi, kita sepatutnya malu bila masih berani bilang bahwa kegotongroyongan adalah monopoli masyarakat kita. Tanpa harus menimbang mana yang lebih bergotong-royong, alangkah baiknya jika kita belajar dari kepiawaian masyarakat Amerika memobilisasi kekuatan masyarakat. Di dalamnya terkandung penghargaan tinggi pada jenis profesi apa pun yang menjadi pilihan anggota masyarakat untuk membaktikan diri mereka bagi kehidupan bersama.

Sumber : Majalah Intisari, No. 487 TH. XLI, Februari 2004

2 komentar:

doddi mengatakan...

Ini tulisan coba mengungkapkap fakta sosialisme sebagian dari warga negara AS, padahal AS dikenal sebagai negara kapitalis. Kok bisa?

Hasil studi pustaka dan survey yang dilakukan ekonom Amerika, Peter F Drucker menemukan fakta, justru praktik ekonomi di Amerika sudah mengarah ke komunis. Misalnya sebuah perusahaan besar, mewajibkan kepemilikan saham oleh seluruh karyawannya, termasuk oleh sekuriti, kurir, atau cleaning service yang menempati batu bata paling bawah pada sebuah pondasi perusahaan. Pensiun dari perusahaan itu, bisa saja seorang sekuriti menjadi komisaris perusahaan itu, mewakili level pondasi itu.

Saya ingin tahu data lebih jauh dari tulisan itu, sejak kapan mereka mengenal koperasi? Dapatkah diprediksi sampai kapan kira-kira kehidupan gotong royong, berkoperasi, dan menjadi relawan akan bisa bertahan?

Mengingat, kalau saya baca beberapa buku dan mendengar cerita orang tua, kehidupan dulu bangsa kita memang terkenal dengan gotong royong dan kerja bakti, kekluargaan dan komunal. Saya mengalami kehidupan kerja bakti di akhir tahun 80-an, tapi memang sekarang tidak ada kerja bakti itu. Apa yang menjadi sebab.

Secara feeling saja saya ingin menyebut salah satu sebab kerusakan tatanan sosial di negeri ini adalah kelakuan Soeharto dan kroni-kroninya yang telah memberi contoh buruk dalam praktik perekonmian negara dan bangsa.

Anonim mengatakan...

Mas Doddi Said,
Saya penulis artikel di Intisari itu: Abang Rahino. Email saya di peaceworkinggroup@gmail.com atau sanggarkertas@gmail.com

Tentang pertanyaan Anda, saya yakin pada hakekatnya umat manusia adalah mahluk sosialis. Namun sayang pengejawantahan (aplikasi) peradaban dasar itu dalam berbagai isme tidak mampu menjelaskan sang peradaban itu sendiri. Sehingga kita sering dibuat bingung, lho kapitalisme kok aspek sosialisnya tinggi banget! Atau di RRT kok ada jurang kaya miskin juga, katanya sosialis!

Semua komunitas sosialis yang saya kunjungi memang membangun masyarakatnya dengan hati sebagai starting point-nya, seperti yang dikatakan oleh pak Trappnell dari NY State.

Begitu dulu dari saya,
ar