Jumat, Desember 25, 2009

Mempuisikan Grafis dan Lukisan

Ada batas tipis antara mereka yang bergerak dalam dunia seni grafis dengan seni lukis. Dan kini tokoh muda penggerak seni grafis asal Yogyakarta Syahrizal Pahlevi berupaya memadukannya lewat pameran tunggalnya.

TEKS : IWAN SAMARIANSYAH

PAMERAN tunggal Syahrizal Pahlevi, perupa sekaligus pegrafis yang akrab dipanggil dengan sebutan Levy dihadiri puluhan pengunjung di Koong Gallery, Jakarta Selatan. Tema pameran tunggalnya alumni ISI Yogyakarta kali ini adalah ”Poetical Intrusion”, yang seakan mendeklarasikan dirinya bahwa dia konsisten dengan tema-tema lingkungan dan pemandangan alam (landscape).

Hanya saja, lukisan-lukisan mutakhir Levy memang menunjukkan watak sekaligus karakternya yang makin bersifat ekspresif-abstraktif namun juga fotografik. Bisa jadi karena beberapa tahun ke belakang, Levy banyak mendalami – bahkan berkampanye – untuk mendalami seni grafis. Pengaruh seni grafis dalam karya-karyanya yang dipamerkan kali ini begitu terasa.

Levy bukanlah pelukis anyar di dunia seni rupa Indonesia. Namanya sudah dikenal luas sejak awal tahun 1990-an dengan menggelar berbagai pameran baik bersama-sama dengan kawan-kawannya sesama alumni ISI maupun komunitas seni rupa lainnya di berbagai kota di Indonesia. Uniknya, Levy memulai semuanya itu dengan hobinya menggambar kartun dan mengirimkannya ke berbagai media massa di usia remaja.

Pada 1985, Levy dengan kegemarannya di bidang gambar-menggambar akhirnya memutuskan untuk masuk Diskomvis ISI Yogyakarta, setelah sebelumnya kuliah di Fakultas Sastra UI, Jakarta. Setahun kemudian pada 1986, Levy lantas tertarik mendalami seni lukis. Dan sejak itulah dia lantas menekuni seni lukis dan lulus pada 1994. Selepas lulus, Levy sempat aktif di Sanggar Bidar Sriwijaya.

Dalam catatan saya, bersama 15 orang temannya sesama pelukis, pada pertengahan tahun 2000, Levy lantas mendirikan Rumah Seni Muara yang terletak di jalan Parangtritis, Yogyakarta. Kegiatannya antara lain yaitu diskusi, pameran, hingga menerbitkan newsletter ”Muara”. Namun sayangnya, karena kesibukan pengelolanya, Rumah seni Muara pun menghentikan aktivitasnya.

Kini setelah mengalami perawatan di rumah sakit Levy belum bisa secara total menekuni hobinya tersebut, namun meski dalam kondisi yang tidak sehat ia masih ingin untuk terus menggoreskan kuasnya di atas kanvas. Dan pameran di Koong Gallery mulai 21 November 2008 itu seakan mentasbihkan kembalinya Levy ke dunia yang dicintainya, dunia seni lukis.

Ada 15 karya yang dipamerkan Levy pada kesempatan itu, kesemuanya menampilkan lukisan pemandangan alam (landscape) yang sekaligus juga bersisian dengan tema pemandangan kota (cityscape) tempat tinggalnya : Yogyakarta. Uniknya, Levy bereksperimen dengan lukisan yang dilengkapi peta yang merujuk dimana lokasi lukisan tersebut diambil. Levy tampaknya tertarik memasukkan unsur-unsur geografis dalam karya-karyanya meski tak lengkap.

Lukisannya juga temanya berseri, misalnya : Landscape-landscape I dan Landscape-landscape II atau Persawahan Yang Dilihat dari Ringroad Barat I - IV. Judulnya pun banyak yang merupakan gambaran dari isi lukisan yaitu kerisauan seorang Levy mengenai perubahan penggunaan lahan di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Yang tadinya sebuah kampung, menjadi bagian dari sebuah kota besar.

Dalam buku kuratorial pameran, Rizky A Zaelani menilai bahwa lukisan-lukisan Syahrizal Pahlevi bersifat puitik dan fotografik. ”Pada jejak-jejak ekspresi yang bersifat puitik itulah, saya rasa, Pahlevi berhasil seolah-olah menyatukan berbagai koordinat pengalaman hidup yang terpecah atau terpisah-pisahkan. Gangguan-gangguan visual pada lukisan itu justru bersifat produktif,” tulis Rizky.

Secara keseluruhan, demikian kurator seni rupa kelahiran Bandung, 27 Desember 1965 ini, subject matter lukisan-lukisan Levy nampak sebagai gambaran dari suatu susunan koordinat ingatan atau pengalaman. Sekilas, komposisi bidang lukisan-lukisan itu mengandung semacam gangguan atau percampuran (intrusion) visual yang atraktif sekaligus mencerminkan hasil pertimbangan yang cermat.

Dalam sebuah pembicaraan antara Rizky dengan Pahlevi, maka sang pelukis pernah mengungkapkan bahwa : ”saat kita memandang sesuatu, kita sebenarnya juga tengah ingat tentang sesuatu yang lain”. Dan karena itulah Rizky berpendapat bahwa sebagai pelukis, Levy jelas amat paham bahwa fotografi adalah salah satu metode yang tepat untuk menunjukkan persoalan tersebut.

Dari segi harga, pihak galeri Koong menawarkan harga atas karya-karya Levy yang dipamerkan saat itu secara variatif. Mulai dari harga Rp 22,5 Juta hingga yang paling mahal sebesar Rp 50 juta. Situasi perekonomian memang tengah sulit akibat pengaruh krisis global di Amerika Serikat, namun minat para kolektor mengkoleksi lukisan-lukisan di berbagai pameran tidaklah surut. Terbukti beberapa lukisan Levy pun terjual.

Kelompok Semoet Menggigit Kota

Enam orang perupa yang tergabung dalam Kelompok Semoet tampil dalam pameran yang mengulas persoalan dunia urban. Unik dan mengandung gugatan sosial.

TEKS : IWAN SAMARIANSYAH

DALAM jagat seni rupa Indonesia, para perupa asal Minangkabau menempati posisi yang terhormat. Banyak tokoh-tokoh penting perupa yang berasal dari provinsi Sumatera Barat itu. Sebut saja nama Wakidi (1889-1979) disebut-sebut sebagai salah satu legenda seni rupa Indonesia yang karyanya bisa disejajarkan dengan R Abdullah Suriosubroto (1879-1941) dan RM Pirngadi (1875-1936).

Wakidi yang bermukim di Bukit Tinggi, disebut-sebut sebagai seorang pelukis yang disebut sebagai orang pertama di ranah Minangkabau yang melukis teknik dan gaya baru. Selain Wakidi, dikenal pula nama-nama seperti Marah Sutan dan Muhammad Syafei, tokoh yang berjiwa seni dan membentuk banyak sosok penekun seni termasuk seni rupa di tanah Minangkabau.

Kesadaran sebagai pelukis tanah Minang itu tampaknya terbawa hingga saat mereka merantau ke berbagai kota untuk menuntut ilmu. Panggilan tanah rantau itulah yang akhirnya membuat enam perupa asal Minang yang bermukim di Yogyakarta akhirnya sepakat berkumpul. Lahirlah Kelompok Semoet yang beranggotakan pematung Abdi Setiawan dan Jhoni Waldi, pelukis Darvies Rasjidin, Denny ’Snod’ Susanto, Khairul El Kamal dan Zulkarnaini.

Usia mereka relatif masih belia, sekitar 30-an tahun. Yang paling senior tentu saja Darvies Rasjidin. ”Ya kami semua bertemu antara sengaja dan tak sengaja di tempat kami menuntut ilmu di jurusan seni murni Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. Kami berasal dari berbagai angkatan dan generasi. Kesamaan idelah yang membuat kami bertemu dalam kelompok ini,” ujar Darvies kepada saya.

Bertempat di Bika Graha Mandiri, ke enam perupa itu unjuk karya mereka, dibuka sejak 19 November 2008 dan dipamerkan selama sebulan, ditutup pada 18 Desember 2008. Sejumlah karya lukis di atas kanvas, karya patung kayu dan patung perunggu dipamerkan dalam kesempatan tersebut. Pihak penyelenggara yaitu Ide Global Art mematok harga mulai dari Rp 18 juta hingga yang tertinggi Rp 50 Juta untuk karya mereka.

Pameran bertajuk lampu merah itu dikuratori oleh Mikke Susanto. Mengapa tema pameran kali ini Lampu Merah? Bisa jadi karena karya-karya yang ditampilkan oleh Kelompok Semoet terkait erat dengan gagasan-gagasan sosiokultural. Karya-karya mereka tak jauh dari persoalan dan dunia sekitar mereka tinggal, dan kali ini sudut-sudut kota lah yang mereka bidik. Ikon utama lalu lintas kota adalah lampu merah.

Mikke Susanto menulis pada kuratorial pameran, betapa kelompok ini memaknai tema tersebut begitu serius dan intens. Sejak berpameran pertama kali di Purna Budaya, Yogyakarta pada tahun 2000 kelompok ini selalu menggigit erat kisah dan narasi perihal kehidupan sosial. Terkadang sekedar menyindir, namun kadang juga menggugat fenomena ketidakadilan sosial yang berseliweran di sekitar kita.

Pematung Abdi Setiawan secara kreatif mengungkap kehidupan anak-anak jalanan di kota melalui karya-karyanya. Anak-anak yang kehilangan masa kecilnya karena dipaksa melawan kemiskinan yang mendera mereka. Lusuh, kumuh dan menghentak. Anak-anak jalanan adalah potret kelabu kegagalan sebuah sistem kota mensejahterakan warganya. Patung-patung alumunium itu terkesan biasa, tetapi pesannya begitu jelas : tolong perhatikan kami wahai penguasa !

Berbeda dengan karya Jhoni Waldi yang banyak bermain bahasa tubuh. Mediumnya adalah patung logam bercampur kayu jati. Ciri khasnya adalah hampir semua patung manusia ditampilkan dengan kepala tanpa otak, seakan hendak menyindir bahwa manusia-manusia yang hidup di kota telah dilemahkan daya fikirnya. Hidup tanpa pikiran dan perasaan, bekerja mekanis bak mesin.

Sang pelukis senior Darvies Rasjidin seakan hendak menjadi juru bicara simbolik kelompok semoet. Dia melukis rumah-rumah semut di ujung-ujung daun pohon. Dan begitulah judul lukisannya : Di ujung-ujung Ranting #1 dan di ujung-ujung ranting #2, yang menggambarkan rumah semut yang berkabut dan berasap. Aneh, namun mengundang senyum para penikmat karya seni.

Yang paling mengundang perhatian dari karya Darvies ini adalah Randu yang tenggelam, menggambarkan sebuah kota yang terletak di atas kapas, perlahan tenggelam di lautan dalam. Permainan warnanya sungguh memikat dan mempesona. ”Isu lingkungan dan pemanasan global telah menginspirasi saya menghasilkan karya ini,” ujar Darvies kepada saya di sela-sela pembukaan pameran.

Sedangkan karya-karya lukisan Zulkarnaini dibuat dengan teknik yang tidak biasa, seperti menyaksikan klise film hitam putih. Potret kehidupan sehari-hari dalam kehidupan modern sebuah kota telah menarik perhatiannya untuk berkreasi : penumpang bus way, sayap pesawat terbang, mobil di jalanan dan permainan komidi putar. Semua dibuat dengan teknik melukis ala klise foto dengan pendaran warna dominan hijau.

Adapun Denny ”Snod” Susanto menggunakan pendekatan olahraga secara simbolik tentang sudut-sudut kota. Dia memilih bola biliard dan golf dalam semua lukisannya untuk mewakili kehidupan urban. Semua karyanya dengan gaya seperti itu mulai dari Enemy Between Us, Beautiful Game #2 dan Life Rhythm Section. Seolah memberi pesan betapa berpengaruhnya kedua jenis bola tersebut pada orang kota !

Perupa terakhir, Khairul El Kamal tampaknya menggunakan obyek yang berkaitan dengan perempuan, khususnya pekerja seks komersial (PSK). Bibir dan gincu perempuan menjadi andalannya. Itulah yang dia tampilkan pada karyanya yang berjudul A Thousand Gossips (2008) dengan visual puluhan bibir yang berjajar rapi, dalam keadaan bicara maupun diam. Atau karyanya yang lain berjudul Klien dan Tak Selamanya Indah. Semua bicara soal dunia PSK yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan malam hari di sudut-sudut kota.