Sabtu, Mei 07, 2011

Defisit Listrik Masih Mencemaskan

Pekerja PLN sedang memperbaiki kabel listrik
Pembangunan sektor kelistrikan di Indonesia berjalan tersendat-sendat. Meski sejak 2007 lalu telah dicanangkan program percepatan pembangunan pembangkit listrik 10 ribu megawatt (MW), hingga kini masih terjadi defisit listrik. Kondisi ini pada gilirannya mengancam iklim investasi.

Pembangunan sektor kelistrikan di Indonesia berjalan tersendat-sendat. Meski sejak 2007 lalu telah dicanangkan program percepatan pembangunan pembangkit listrik 10 ribu megawatt (MW), hingga kini masih terjadi defisit listrik. Kondisi ini pada gilirannya mengancam iklim investasi.


PT Perusahaan Listrik Negara saat ini hanya mampu mencapai rasio elektrifikasi sekitar 60 - 65 persen. Sekitar 80 persen listrik dihasilkan di Jawa dan Bali, 11 persen di Sumatera dan sisanya di Kalimantan, Sulawesi dan wilayah Indonesia timur hanya sekitar 9 persen. PLN menargetkan rasio elektrifikasi 100 persen baru bisa dicapai pada 2020.

Direktur Utama PT PLN Fahmi Mochtar mengatakan, kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional sekarang baru mencapai 29 ribu MW, sekitar 80 persennya adalah pembangkit milik PLN. Karena itu, keberhasilan megaproyek pembangkit listrik 10 ribu megawatt sangat diharapkan. Kenyataannya, proyek ini masih kekurangan dana yang sangat besar.

Defisit listrik terjadi karena lebih dari 10 tahun tak ada pembangunan pembangkit baru. Megaproyek pembangunan pembangkit listrik 10 ribu megawatt (MW), yang awalnya digagas Wakil Presiden Jusuf Kalla, memang sebuah terobosan. Tapi sejak awal banyak kepentingan politik banyak terjadi, dan terkesan dipaksakan.

Akibatnya jalan proyek ini pun tak mulus. Awalnya, investor yang masuk diharapkan membawa dana sendiri. Dalam perjalanannya, investor yang kebanyakan dari China, meminta ada jaminan dari pemerintah. Belakangan, PLN sendiri yang harus pontang-panting mencari dana.

Di sisi lain, Koordinator Working Group on Power Sector Restructuring, Fabby Tumiwa pernah menyatakan, anggapan bahwa Indonesia kaya energi konvensional seperti batu bara, minyak dan gas bumi perlu dikoreksi. Faktanya tidak demikian, karena hal itu memakai data 1980-an yang belum di-update.

Untuk energi terbarukan juga demikian. Secara potensi, Indonesia diperkirakan memilika 27 Giga Watt (GW) dari energi panas bumi. “Tetapi tidak semuanya bisa dimanfaatkan karena lokasinya yang terpencar di berbagai wilayah terpencil,” ujar Fabby.

Dalam pemanfaatan energi air, khususnya mikrohidro, terkendala dengan daerah aliran sungai (DAS) yang rusak dan kritis. Kerusakan itu hampir terjadi di seluruh Jawa, dan sebagian Sumatera. Yang agak baik hanya ada di Papua namun penduduknya sedikit sehingga pembangunan pembangkit di Papua menjadi kurang ekonomis.

Untuk energi angin, tampaknya posisi Indonesia yang ada di Khatulistiwa dan pada rentang iklim tropis membuat kekuatan angin kurang bisa diandalkan. Energi angin bisa dikembangkan dengan baik di daerah timur, yang memang lumayan berangin. Sedangkan pemanfaatan energi matahari masih terkendala dengan teknologi yang belum efisien dengan kandungan bahan impor yang tinggi sehingga relatif mahal.

Iwan Samariansyah

Minggu, April 10, 2011

Aspaskom Gelar CommGath 2011

Tiga pembicara pada Diskusi Interaktif Aspaskom UI
ASOSIASI Pascasarjana Komunikasi UI menggelar Communications Gathering (CommGath) Sabtu, 9 April malam di Kafe Pisa, Menteng, Jakarta. Gathering yang dikemas dalam bentuk Diskusi Interaktif itu dihadiri mahasiswa dan alumni Pascasarjana UI Ilmu Komunikasi berbagai angkatan. "Tujuan acara ini untuk silaturahmi dan keakraban warga Aspaskom," kata Ketua Aspaskom UI Rachman Salihul Hadi kepada jurnas.com.

Diskusi interaktif yang digelar mengambil tema “Peran Baru Praktisi Komunikasi di Era New Media & Peluang Munculnya Karir-karir Baru” di Jakarta. Tiga pembicara tampil yaitu Heru Catur TWP (Produk Manajemen dan Marketing Detik.com), Fauzi Imron (Ketua Pelaksana Harian Yayasan Air Putih) dan Hengky Hepon (konsultan internet marketing). Diskusi dipandu oleh Hendri Satrio, seorang pengamat yang juga praktisi komunikasi.

Dalam sambutannya, Ketua Program Pasca Sarjana Komunikasi Universitas Indonesia, Dr. Pinckey Triputra, MSc mengatakan bahwa kegiatan diskusi seperti ini sangat besar manfaatnya bagi pengembangan ilmu komunikasi. ”Kami sangat gembira dan mendukung kegiatan-kegiatan yang mendorong pengembangan praktisi ilmu komunikasi," katanya.

Dia berharap Aspaskom mampu menjadi motor bagi pengembangan ilmu komunikasi. Terutama di era social media dan bisa memanfaatkannya secara maksimal bagi kepentingan masyaraka. Sedangkan Rachman Salihul Hadi, menegaskan perlunya anggota Aspaskom untuk terus mengikuti perkembangan-perkembangan terkini di bidang komunikasi.

“Fenomena maraknya media sosial sebagai alat komunikasi pada akhirnya menuntut kita untuk terus update dengan teknologi terbaru. Tak bisa dielakkan, trend media sosial pun memunculkan profesi baru. Dahulu kita hanya mendengar istilah Marketing dan Public Relation (PR). Kini kita juga mengenal istilah cyber PR dan mendengar tentang profesi-profesi seperti Social Media Strategist Digital Technologyst, Digital Creative, e-Commerce Strategyst, Online Strategist, Online Marketing Strategist Analyst dan lain-lain” imbuhnya.

Teknologi web 2.0 yang memudahkan orang untuk berinteraksi dan berkolaborasi melalui internet mengundang gelombang ekonomi digital baru.

Selepas dari bubble dotcom yang meletus tahun 1998, dunia internet seakan menemukan identitas baru yang cerah. Begitu banyak perusahaan berbasis internet yang tumbuh berkembang dengan memanfaatkan karakter baru dari internet. Mulai dari Google, Facebook, Twitter, Foursquare, WordPress.

Khusus untuk Facebook dan Twitter seakan menjadi nama generik untuk situs sosial media, saking terkenalnya dua situs ini. Sampai akhir tahun 2010 Facebook telah menjaring lebih dari 550 juta pengguna dan akan makin terus bertambah.

Iwan Samariansyah