Selasa, Maret 09, 2010

Suami Berhati Malaikat

Sumber : Aidil Heryana's note dan Fanny Martdianty's note

Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini.

Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Karena ada sisi kesehariannya yang luar biasa!!!!

Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.

Dari isinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya sudah tidak dapat
bicara tapi selalu terlihat senyum. Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.

Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak-anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari…saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya-karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing-Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat sang ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu 'agar semua anaknya dapat berhasil'.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata:

"Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak. Bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu."

Sambil air mata si sulung berlinang.

"Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.

Si Sulung melanjutkan permohonannya.

"Anak-anakku. Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin
bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian…."
Sejenak kerongkongannya tersekat*…

"Kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini ?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit."

Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno. Dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu……

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk
menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa. Disaat itulah meledak tangisnya dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuan pun tidak sanggup menahan haru.

Disitulah Pak Suyatno bercerita : "Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah
cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya empat anak yang lucu-lucu. Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia
sakit..."

Dia menyampaikan pernyataan itu sambil menangis sesenggukan.

"Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya..."BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH".

Jumat, Desember 25, 2009

Mendekonstruksi Tubuh Manusia


Deden Sambas, perupa asal Bandung yang dikenal saat pertengahan tahun 1990-an menggelar seni rupa koran kini berupaya mendekonstruksi ulang tubuh manusia.

Oleh: Iwan Samariansyah

APA jadinya jika manusia tampil dalam lukisan dalam bentuk persegi empat atau penuh sudut, atau ditampilkan secara tidak lengkap. Hanya wajah saja, kaki saja, ataupun bagian-bagian tubuh lainnya, seolah termutilasi. Itulah yang hendak dijelajahi oleh seorang Deden Sambas, perupa kelahiran Bandung, 15 Juni 1963 itu dalam pameran tunggalnya kali ini.

Menurut Rizki A. Zaelani, karir artistik Deden Sambas dibentuk melalui banyak kisah persahabatan terutama dengan sejumlah perupa asal Bandung. Sebagai perupa yang berasal dari keluarga tradisi (Sunda) yang sederhana, pembentukan kecenderungan artistik dan prinsip estetik Deden dipengaruhi oleh semangat religiusitas yang kental, terutama dari Islam tradisi (pesantren).

Sedangkan kedekatan dirinya dengan beberapa figur seniman senior di Bandung diantaranya adalah : Sunaryo, Heyi Ma’mun dan Tisna Sanjaya mempengaruhi gaya sabetan kuasnya di atas kanvas. Begitu juga keakrabannya bergaul dengan sejumlah perupa yang tergabung dalam Sanggar Olah Seni (SOS) Babakan Siliwangi. Hasilnya adalah sosok yang multi talenta.

Tak heran saat pembukaan pameran tunggalnya, Deden juga menggelar aksi performance arts yang disambut hangat para pengunjung. Dia rela berjumpalitan di lantai galeri sembari mengingatkan pengunjung bahwa apa yang dilakukannya itu merupakan bagian tak terpisahkan dari pameran lukisannya. ”Saya ingin total berkesenian, dan karena ini adalah pameran tentang dekonstruksi manusia maka semua saling terkait,” ujarnya.

Sekitar 23 karya terbaru Deden Sambas dipamerkan di galeri berlantai tiga tersebut. Pengaruh kuat Sunaryo terlihat kuat pada sebagian besar karyanya yang bercorak abstrak. Dekonstruksi tubuh manusia antara lain terlihat dalam karya-karyanya yang berjudul Berdiri, Big Brother Green, Meet (Tanpa Batas), Centrum Librium, On Green, The Face, Memilih Pilihan, Selalu Tumbuh, Sexy War, The Work dan Still Life.

Keseluruhan tubuh manusia digambarkannya banyak sudut (segi empat atau persegi panjang), dan tanpa wajah. Perkecualian terlihat pada karyanya berjudul Woman yang justru menampilkan potret seorang perempuan cantik sedang memegang sehelai kain berwarna kuning.

Dia juga menggambarkan botol wine dengan cara yang tidak lazim yaitu membelahnya menjadi dua bagian besar. Eksperimen ini justru menarik perhatian pengunjung pameran karena hasil potongannya yang disatukan kembali membentuk ornamen yang artistik dan unik. Hasil karya Deden ditawarkan pada kolektor mulai harga Rp 16 – 25 juta. (*)

Data-data :
Judul Pameran : Vice Versa
Seniman : Deden Sambas
Kurator : Rizki A. Zaelani
Tempat : Galeri Mon Décor, Jalan Gunung Sahari Raya Jakarta
Waktu : 21-30 Januari 2009