Selasa, November 25, 2025

Ayo Mulai Lagi

Ya, hari ini bertepatan dengan Hari Guru Nasional tahun 2025, saya bikin tulisan Ayo Mulai Lagi. 

Selama bertahun-tahun blog ini dibiarkan terlantar dan tidak diperbaharui. Meskipun tetap saya pamerkan ke teman-teman dan para kenalan yang ingin mengetahui tulisan saya lebih jauh. Foto inilah penyebabnya. Ini adalah foto lama, 10 tahun yang lalu. Foto bersama teman-teman dan sahabat saya yang pernah bersama-sama belajar di Kampus Salemba UI. 

Kami berasal dari berbagai perguruan tinggi dan jurusan yang berbeda-beda, kemudian disatukan untuk belajar bersama di Program Pascasarjana S-2 UI pada tahun 2001. Ada yang lulus tepat waktu seperti sahabat saya Gun Gun Heryanto, yang kariernya sangat bagus. Lulusan Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini bahkan menjadi Guru Besar di  UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. 

Dan kini, dia jadi guru saya di program S-3 Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi di universitas tempat dia kini menjadi Dekannya. Wikipedia menyebut Gun Gun sebagai seorang akademisi, penulis dan pakar komunikasi politik asal Indonesia. Dia memang sangat rajin menulis kolom di berbagai media massa di tanah air sejak lulus dari S-2 Ilmu Komunikasi UI.


Alumni S-2 Ilmu Komunikasi UI

Adapun S-3 diperoleh Gun Gun dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, Bandung. Sejak tahun 2023 lalu hingga tahun 2027 nanti dia juga mengemban amanah sebagai Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta. Pria kelahiran Cianjur, 12 Agustus 1976 ini memang sosok yang tekun, cerdas dan teman yang menyenangkan sejak saya mengenalnya pertama kali. 

Di foto tersebut, Gun-Gun berdiri ketiga dari kiri. Di sebelahnya, ada Ilham Prisgunanto yang juga berkarir sebagai dosen di perguruan tinggi yang tidak biasa, yaitu Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, yang kini berganti nama menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian. Igoen, berbeda dengan Gun Gun yang mendalami komunikasi politik, memilih bidang komunikasi pemasaran.

Igoen juga cukup produktif menulis, dan juga lulusan S-3 dari Ilmu Komunikasi Unpad Bandung dengan Disertasi berjudul "Dinamika Representasi dan Imaji Kepolisian dalam Program Reality Show" yang diselesaikannya pada tahun ini (2025). Igoen orangnya periang dan senang beraktivitas. Lelaki kelahiran Klaten, 22 Oktober 1989 ini pernah membantu saya saat menyusun buku untuk PT Pupuk Kaltim, Tbk pada sekitar tahun 2003 yang lalu. 

Di foto tersebut juga ada Eka Wenatz Wuryantara (berdiri paling kiri), yang juga berkarir sebagai Dosen Ilmu Komunikasi. Awalnya di Universitas Paramadina, dan informasi terakhir saat ini alumni STF Driyarkara Jakarta itu pindah ke Universitas Multi Media Nusantara, di Serpong, Tangerang Selatan. Setelah itu ada Irma Manurung, musisi yang sering bermain musik di grup Jakarta Simfonia Orchestra, duduk paling kiri.

Ini kelompok musisi filharmonis legendaris yang memang berbasis di Jakarta. Irma adalah generasi yang lebih muda dari para musisi senior yang sudah bermain musik pada era 1970-an seperti Tony Suwandi, Embong Rahardjo (alm), Suka Hardjana, Amir Katamsi dkk. Irma segenerasi dengan Juhad Ansari, Gatut Santoso, Bambang Suardi, Prima Muchlisin dan lain-lain. Dulu Irma beberapa kali mengundang kami saat dia dan kawan-kawannya menggelar konser.

Begitulah sebagian dari kawan-kawanku di foto tersebut yang bisa kuceritakan. Lainnya entar menyusul ya, kalau nanti kita jadi ketemuan di tahun 2025 ini.  


Selasa, Mei 01, 2012

Uji Kompetensi Jurnalis AJI Perdana


Pertama kali digelar, 19 peserta UKJ mengikuti kegiatan itu dengan antusias.

Antusias dan tangkas. Itulah yang sepintas tertangkap dari para peserta yang mengikuti kegiatan Uji Kompetensi Jurnalis (UKJ) di Wisma Hijau, Cimanggis, akhir pekan lalu. Kegiatan yang untuk pertama kalinya digelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia itu diikuti oleh 19 peserta dari seluruh Indonesia, empat diantaranya jurnalis perempuan. Tanpa kenal lelah mereka mengikuti semua tugas dan materi UKJ yang disiapkan oleh tim penguji.

UKJ digelar selama dua hari, Sabtu (28/4) dan Minggu (29/4) diikuti oleh 18 orang jurnalis media cetak dan seorang jurnalis media elektronik Radio Prosalina, Jember. Lima peserta berasal dari Jakarta, juga dari Bandung (4 orang), Balikpapan dan Semarang masing-masing dua orang dan Surabaya, Jayapura, Ternate dan Manado diwakili masing-masing seorang jurnalis. Selain UKJ sehari sebelumnya digelar pula Training of Trainers (TOT) calon penguji UKJ.

Yang menarik, jumlah peserta yang mengikuti TOT sebagai calon penguji ternyata lebih banyak dari peserta yang mengikuti UKJ itu sendiri. Ada 31 peserta yang mengikuti TOT calon penguji dengan 28 orang diantaranya membubuhkan tanda tangannya di daftar hadir yang saya minta dari pihak panitia. Hanya empat peserta TOT berasal dari Jakarta dan selebihnya dari berbagai kota di seluruh Indonesia. Mereka berasal dari 25 media cetak dan enam media elektronik.

Meski diikuti cukup banyak peserta, UKJ pertama kali ini masih didominasi peserta pria. Tidak banyak jurnalis perempuan yang ikut serta dalam kegiatan ini, entah kenapa. Hanya empat orang dari 19 peserta. 20 persen peserta perempuan mestinya jumlah yang kurang memadai. Apalagi penyelenggaraan kegiatan ini diselenggarakan di bulan April, bulan yang seharusnya menjadi milik kaum hawa karena ada peringatan Hari Kartini disitu.

Wisma Hijau, bangunan milik Bina Swadaya ini merupakan sebuah bangunan lama yang berdiri pada tahun 1982. Tentu saja dengan harapan bahwa di tengah alam bernuansa hijau, segar lantaran pagar bambu, tanaman rumput, tanaman hias dan berbagai jenis pohon yang tumbuh di lingkungan ini akan lahir generasi pertama anggota AJI yang kompeten dan professional. Lantai dua Gedung Utama Wisma Hijau berukuran sekitar 14 meter x 11 meter itu menjadi riuh rendah oleh suara para panitia, peserta UKJ, calon penguji dan para penguji.

Wisma Hijau telah menjadi saksi bisu terciptanya sebuah sejarah. Di tengah-tengah ruangan yang didominasi warna hijau itu akan tercipta generasi baru anggota AJI, organisasi jurnalis yang berkeinginan ingin terus meningkatkan mutu para pekerja pers yang menjadi anggotanya. Panitia dan peserta menyebar di beberapa meja terpisah, asyik dengan kesibukannya sendiri-sendiri. Tim penguji dan peserta yang diuji sama-sama sibuk.

Yang satu sibuk menyiapkan pertanyaan yang harus diajukan ke peserta, dan yang lain sibuk menyiapkan jawaban yang dianggap bisa memuaskan penanya. Saling umpan balik. Sekitar 50-an orang hilir mudik dalam ruangan berukuran sekitar 14 meter x 11 meter itu. Di atas meja bertebaran laptop, ponsel, gelas minuman, kertas ujian, kunci, alat tulis dan tas peserta. Pendek kata segala macam peralatan yang dibawa oleh peserta, panitia, penguji maupun observer yang ikut hadir pada UKJ pertama ini.

Ketua Umum AJI Indonesia Eko Maryadi kepada wartawan mengatakan bahwa penyelenggaraan AJI Indonesia itu adalah amanat Kongres AJI di Makassar. AJI berkomitmen untuk mendukung pengembangan kapasitas profesi para anggotanya. ”Kita mendukung peningkatan kualitas profesionalisme para anggota AJI. Oleh karena itu mau tidak mau kita harus mengadakan UKJ ini,” katanya saat ditanya wartawan di Depok, Sabtu (28/4) lalu. 

Dia berkeyakinan bahwa bagi jurnalis, UKJ ini memberikan keuntungan bagi semua pihak yang berkepentingan pada profesi jurnalis. Termasuk pula bagi masyarakat umum. Makin banyak jurnalis yang memiliki kompetensi yang memadai maka akan muncul pers yang sehat dan beretika di Indonesia. ”Jurnalis yang yang lulus UKJ ini jelas memiliki kompetensi dan standar etik yang berbeda,” katanya.

Abdullah Alamudi, mantan anggota Dewan Pers yang kini menjadi staf pengajar di Lembaga Pers Dr Soetomo menyampaikan apresiasinya pada antusiasme peserta yang mengikuti ajang UKJ kali ini. ”Ini jelas merupakan bukti keseriusan AJI dalam melahirkan para jurnalis yang profesional,” katanya.

*) Dimuat di Harian Jurnal Nasional edisi Rabu, 2 Mei 2012 halaman 9