Senin, Januari 02, 2012

Kita Butuh Pemimpin Yang Adil


KEBANGKITAN Nasional telah memasuki usia 100 tahun. Organisasi kemasyarakatan dan keagamaan jelas memainkan peranan penting dan strategis dalam proses konsolidasi nasional saat Indonesia masih menjadi sebuah impian masa depan. Tiga tahun sebelum Budi Oetomo didirikan pada 1908, Tirto Adhi Soerjo (1880-1918) sudah memprakarsai berdirinya Sarikat Dagang Islam di Bogor.

Sebagai pemimpin Sarikat Dagang Islam, Tirto bekerja sebagai pemimpin surat kabar Medan Prijaji terbitan Bandung Dia dengan penuh kesadaran menggunakan surat kabarnya sebagai alat pembentuk pendapat umum. Tirto menyadari bahwa semangat keagamaan yang digabung dengan kekuatan bisnis bisa menjadi kekuatan pemersatu yang disegani pihak kolonial.

Apa yang dirintis Tirto lantas diikuti oleh dua ormas Islam terbesar yang berdiri tak lama kemudian, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Sejak berdirinya, kedua ormas Muhammadiyah (1912) dan NU (1926) telah bergerak dalam lapangan pendidikan, sosial dan ekonomi.

Secara konsisten kedua ormas itu menjadi tempat penyemaian bibit sejumlah pemimpin nasional yang berperan penting dalam pengembangan semangat kebangsaan di tanah air. Haluan moderat yang dipilih kedua ormas tersebut juga sesuai dan cocok dengan kultur masyarakat Indonesia.

Sebagai arus utama dakwah di tanah air, meski kultur keagamaan yang dikembangkan kedua ormas berbeda, akan tetapi kedua ormas tersebut terbukti bisa berjalan bersama. Kendati tidak mudah dan sederhana, tetapi kerjasama lebih sering terwujud dan memberi pengaruh positif pada perjuangan mencapai kemerdekaan untuk tanah air.

Dalam sejarah, terbukti bahwa umat Islam Indonesia bisa mengesampingkan perbedaan demi satu tujuan kemerdekaan dengan kebersamaan. Landasannya semangat persatuan dan kesatuan yang senafas dengan semangat ukhuwah Islamiah dan ukhuwah wathoniah. Sikap moderat dan penuh semangat toleransi dari NU dan Muhammadiyah mampu meredam berbagai gejolak sosial di tanah air.

Saat ini, globalisasi menjadi judul besar kemajuan zaman. Kemerdekaan menjadi jauh lebih kompleks untuk diterjemahkan. Keberdayaan dan kemandirian dalam bidang ekonomi sepatutnya menjadi basis kekuatan untuk kemajuan umat. Paling tidak itulah yang ditunjukkan dan dilakukan oleh para pemimpin ormas-ormas keagamaan di masa lalu. Nyatanya kita masih bergulat dengan kemiskinan. PR dan tantangan ormas-ormas keagamaan masih banyak dan perlu diatasi dengan kerjasama lintas agama.

H
arus disadari bahwa kodrat beragama jelas memiliki tafsiran yang berbeda dan bagaimanapun kebhinekaan beragama adalah fakta real. Jika moral dan spiritual kita baik, takkan mudah terprovokasi, hanya karena berbeda pandangan dan keyakinan.

Hendaknya semua pemimpin umat kembali ke jati diri bangsa yang cinta pada keadilan sosial. Menurut dia, ancaman disintegrasi bangsa bisa merusak komitmen 20 Mei 1908. Ancaman disintegrasi ini bisa muncul karena ketidakadilan. Karena korupsi, karena kolusi, di dalam kehidupan dan pergaulan sosial warga bangsa.

Oleh sebab itu, yang harus diselesaikan secepatnya dengan baik dan cermat adalah bagaimana menghapus ketidakadilan, menyelesaikan pelanggaran HAM dan praktek-praktek buruk nepotisme, kolusi dan korupsi di negeri ini. Itu akan menyelamatkan kita dari perpecahan dan sekaligus menyelamatkan kita sesudah 100 tahun. Itu akan menyelamatkan kita semua.

Minggu, Desember 11, 2011

Dubes Saudi untuk Indonesia Pamitan

Foto bersama seusai jamuan makan malam
Oleh : Iwan Sams

Setelah lima tahun menjalankan tugas sebagai Duta Besar Arab Saudi di Indonesia, Abdulrahman Al Khayat, bulan ini akan meninggalkan Indonesia karena masa tugasnya sudah berakhir.

Untuk mengakhiri sisa waktunya di Indonesia, Abdulrahman pada Sabtu (10/12) lalu melakukan pamitan kepada sejumlah jurnalis di Jakarta bertempat di kediaman resminya. Tampak hadir diantaranya Fikri Jufri, jurnalis senior dan sejumlah jurnalis lain baik yang tergabung dalam PWI maupun AJI. Tampak pula sejumlah pengurus dan anggota Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) dalam acara itu.

"Kami telah melaksanakan misi selama 5 tahun dan akan meninggalkan Indonesia," ujarnya yang saat menerima para jurnalis sebagai tuan rumah dia mengenakan pakaian khas tradisional Arab Saudi.

Yang menarik, dia menyatakan cukup sukses menjalankan tugasnya sebagai Duta Besar. Dan kesuksesan dirinya menjadi duta besar karena juga berkat dukungan dari berbagai pihak, "Termasuk dari media massa," ujarnya yang diterjemahkan oleh Nurkholis Ridwan, mantan Pemred Majalah Sabili.

Selama melaksanakan tugas sebagai duta besar di Indonesia, Abdulrahman mengakui tidak ada kendala dan halangan yang berarti dalam menjalan tugas. Kesan inilah yang membuat Abdulrahman merasa Indonesia sebagai negara keduanya.

Abdulrahman merasa bangga bisa bekerja di Indonesia, untuk itu meski secara fisik dirinya meninggalkan Indonesia namun hatinya tetap berada di sini.Dia mengakui bahwa Indonesia adalah negara yang penting sehingga negaranya memperhatikan secara khusus kedudukan Indonesia. Di Arab Saudi ada sekitar satu juta WNI yang bekerja bekerja di Arab Saudi dan jamaah haji asal Indonesia merupakan jamaah terbesar di dunia.

Acara tersebut diakhiri dengan jamuan malam. Saya sendiri yang ikut selama acara berlangsung duduk bersama senior saya di Jawa Pos, R Widjojo Hartono yang kini memimpin Majalah Tapal Batas, wartawan Republika yang fasih berbahasa Arab Chairul Ahmad, redaktur InfoPalestina Tirmidzi yang merupakan kenalan baru saya di acara tersebut dan satu orang lagi saya lupa namanya. Menu makannya tentu saja khas Timur Tengah. Lezat juga.

Dimuat sebagai berita singkat di Jurnal Nasional halaman 9 edisi Senin, 12 Desember 2011