Salah satu kekuatan Amerika Serikat sebagai negara adidaya adalah kekuatan ekonominya yang mendominasi dunia. Namun itu pula penyebab kejatuhan negara tersebut.
Simak penyebabnya dari tulisan berikut ini. Untuk mereka yang American minded, asal tahu saja, cadangan devisa dunia per kwartal III tahun 2007 mencapai USD 6 T, di mana 75% nya dikuasai negara2 berkembang. Saat ini pasti sudah lebih besar lagi. Lihat: http://economy.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/01/02/213/72122/cadangan-devisa-dunia-usd6-t
Apa artinya itu? Dengan segala cara, Amerika selama ini telah memaksa negara-negara berkembang untuk menyimpan cadangan devisa, yang tentu saja dalam bentuk USD. Dengan demikian, selama ini dengan segala kesombongannya, sebenarnya perekonomian dan moneter Amerika dibiayai oleh negara-negara berkembang.
Negara-negara maju, khususnya Uni Eropa yang ekonominya sudah solid, tak perlu menyimpan cadangan devisa terlalu besar, karena mata uangnya sudah stabil. Tapi negara berkembang, karena rata2 ekonominya belum terlalu solid dan mata uangnya tidak terlalu kuat, harus menyimpan cadangan devisa yang besar agar mata uangnya stabil.
Berikut data porsi cadangan devisa terbesar dunia per akhir Agustus 2008, seperti dikutip dari Reuters.
1. China US$ 1.808,8 Miliar
2. Jepang US$ 996,7 miliar
3. Rusia US$ 582,2 miliar
4. India US$ 295,3 miliar
5. Korea Selatan US$ 243,3 miliar
6. Brasil US$ 205,1 miliar
7. Singapura US$ 170,1 miliar
8. Hong Kong US$ 158,1 miliar
9. Jerman US$ 153 miliar
10. Prancis US$ 144,8 miliar
11. Malaysia US$ 130,5 miliar
12. Italia US$ 104,5 miliar
13. Thailand US$ 101,3 miliar
14. Polandia US$ 81,6 miliar
15. Turki US$ 79,1 miliar
16. Swiss US$ 75,8 miliar
17. Amerika Serikat US$ 72,5 miliar
18. Inggris US$ 72,1 miliar.
Dari tabel di atas tampak bahwa Amerika sendiri, hanya memiliki cadangan devisa sebesar USD 72,5 miliar, sedangkan negara2 Asia dalam daftar itu saja (China, Jepang, India, Korsel, Singapore, Hongkong, Malaysia, dan Thailand) total mencapai USD 3,904.1 miliar atau USD 3.9 triliun. Kalau ditambah negara2 Asia lain yang tidak masuk daftar tsb, seperti Indonesia, Filipina, Vietnam, dsb, nisacaya total cadangan devisa tsb tidak akan kurang dari USD. 4.5 triliun.
Apakah artinya ini semua? Kalau dulu tahun 1973, di bawah koordinasi Menteri Perminyakan Arab Saudi, Syech Achmed Zeki Yamani telah terjadi oilwar terhadap Amerika yang selalu melindungi Israel, maka sekarang kita, negara2 Asia, di bawah koordinasi Menteri Keuangan China, bisa melakukan "Financial War" terhadap Amerika dan sekutu-sekutunya, termasuk Israel yang diyakini sebagian besar orang selalu menjadi otak kebrutalan Amerika.
Bagaimana Financial War tsersebut akan dilaksanakan? Mudah saja, tukar cadangan devisa negara-negara Asia tersebut dengan Euro secara bertahap, misalnya dalam lima tahun. Itulah yang pernah dilakukan Irak di bawah Saddam Hussein sebelum diinvasi oleh Amerika Serikat beberapa tahun lalu.
Mengapa secara bertahap? Agar tidak mengacaukan ekonomi negara-negara Asia sendiri, karena selama ini transaksi antar negara semuanya dalam USD. Maka dalam waktu singkat perekonomian Amerika dan mata uang USD akan hancur lebur, sebaiknya Euro akan goncang dan menjadi sangat kuat. Mungkin EUR 1 akan sama dengan USD 10. Dengan demikian, maka negara-negara Uni Eropa juga perekonomiannya akan goncang, karena mata uangnya menjadi teralu kuat dalam waktu singkat.
Ekspor dari UE pasti mandek total karena barang-barang produk UE harganya bisa menjadi 10x lipat dari sekarang. Blackbery misalnya, tidak akan ada yang mau beli karena harganya equvalent dengan Rp.50 - 75 juta, dan BMW + Mercy type tertentu yang banyak beredar di Indonesia harganya bisa menjadi Rp.10 miliar.
Dalam waktu bersamaan, ide pembentukan ACU (Asian Currency Unit) dapat segera dilaksanakan agar negara2 Timur tidak didikte oleh Barat terus menerus. Gejala seperti ini sebenarnya sudah diramalkan oleh John Naisbit dalam Megatrend 2000 Asia, bahwa dunia akan dikuasai blok Timur kembali, seperti periode sebelum bangkitnya bangsa-bangsa caucasian pada abad 15.
Oleh karena itu untuk apa kita harus melakukan redenominasi rupiah, karena kelak USD akan berantakan dan Rp harus mengikuti ACU. Pertahankan saja rupiah dengan keadaannya saat ini, perlahan tapi pasti, mata uang ini pasti menguat.
Penulis : Dr John Towell, jt2x00@yahoo.com
Dari milis tionghoa-net
Kamis, Oktober 07, 2010
Rabu, September 15, 2010
Mengembangkan Pembangkit Mini Panas Bumi
Dengan potensi sumber panas bumi yang luar biasa besarnya, PLTP mini layak dikembangkan sebagai pengganti utama PLTD.
BPPT berhasil mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang mobile dan efisien. Diproyeksikan PLTP mini ini bisa dimanfaatkan untuk memenuhi tenaga listrik daerah terpencil dengan kebutuhan listrik di bawah 10 MW. Lebih ekonomis dan siap menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel. Penghematan BBM-nya mencapai Rp 1,1 trilyun per tahun.
PLTP mini milik BPPT itu telah berhasil diuji coba di lokasi sumur injeksi panas bumi Wayang Windu, Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, beberapa waktu yang lalu. Penerapan teknologi ini berpotensi menggantikan ratusan generator diesel berbahan bakar solar yang ditempatkan Perusahaan Listrik Negara (PLN) di berbagai daerah terisolasi di Tanah Air.
Kapasitas generator diesel yang bisa digantikan oleh PLTP mini tersebut dari hasil uji coba mencapai 300 juta watt. ”Jika menggunakan bahan bakar solar, harganya sangat mahal. Jika menggunakan PLTP mini ini, jauh lebih murah dan ramah lingkungan,” kata Kepala Proyek PLTP Binary Cycle BPPT Taufan Suryana kepada Eksplo yang menemuinya di kantornya, awal Juli lalu.
Menurut Taufan, hasil uji coba ini akan disampaikan kepada pemerintah agar menjadi pertimbangan perubahan kebijakan program Desa Mandiri Energi dengan mengoptimalkan potensi energi lokal panas bumi. Sebab, pemanfaatan panas bumi hingga kini masih terlampau rendah, baru mencapai 1.056 megawatt (MW) atau hanya empat persen dari potensi yang ada sebesar 27.000 MW.
Peneliti BPPT bidang konversi dan sistem energi itu menambahkan, nilai keekonomisan memproduksi listrik dengan PLTP mini jauh lebih rendah dari pembangkit listrik tenaga diesel berbahan bakar solar. Biaya produksi listrik dari PLTP ini berkisar Rp 800 per kilowattjam (kWh), sedangkan dengan generator solar mencapai Rp 2.000 per kWh. PLTP mini berkekuatan 2.000 watt yang masih berbentuk prototipe itu diuji coba selama sepekan di lokasi, dan berhasil bekerja dengan baik.
Taufan mengatakan bahwa pembangkit tersebut nantinya akan disempurnakan lagi sehingga bisa memenuhi harapan berbagai pihak. Semua komponen PLTP mini berukuran 2x2 meter tersebut merupakan kreasi ahli-ahli BPPT. ”Komponen utamanya kami bikin sendiri. Kami berharap apa yang kami lakukan ini akan menginspirasi pemerintah, khususnya Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral untuk memenuhi listrik daerah terpencil,” ujarnya.
Menurut dia, untuk memenuhi kebutuhan daerah terpencil paling sedikit dibutuhkan pembangkit dengan daya antara 2 – 5 MW. Bandingkan hal ini dengan PLTP skala besar yang skala ekonomis tercapai bila bisa menghasilkan daya lebih dari 110 MW. ”Karena itulah kita sebut PLTP mini karena meski daya listrik yang dihasilkan kecil, tetap dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Khususnya di kawasan terpencil,” kata dia.
Saat uji coba dilakukan akhir 2008 lalu, PLTP mini BPPT berkapasitas produksi listrik 2.000 watt itu menggunakan air panas bumi daur ulang. Air panas itu merupakan hasil penggunaan panas bumi yang digunakan sebelumnya untuk PLTP Wayang Windu, berkapasitas besar mencapai 110 juta watt atau 110 MW. PLTP Wayang Windu sendiri pada Maret 2009 telah ditingkatkan kapasitasnya menjadi 220 MW.
Koordinator Lapangan Uji Coba PLTP Mini BPPT, Suyanto, mengatakan, teknologi pemanfaatan kembali panas bumi yang disebut siklus biner ini menggunakan air panas bumi dengan suhu rendah 110 derajat celsius. Semula air panas bumi ini langsung diinjeksikan kembali ke dalam tanah melalui sumur dengan kedalaman sampai 1.500 meter.
”Dari total buangan air panas bumi yang akan diinjeksikan kembali ke dalam tanah mencapai 270 ton per jam, ini berpotensi menghasilkan kembali 8-10 megawatt listrik. Tentu generator yang dibuat harus lebih besar dari prototipe ini,” kata Suyanto.
Peluang untuk membangun PLTP di daerah, kata Taufan lagi, cukup terbuka. Indonesia sangat kaya dengan energi panas bumi sebagai sumber daya alam. Dia menunjuk beberapa provinsi seperti NTB, NTT, Maluku dan Sulawesi Tengah sebagai daerah yang paling siap memanfaatkan teknologi tersebut. ”Masa penggunaan teknologi PLTP mini bisa mencapai 25 tahun,” katanya.
Total energi panas bumi di Indonesia saat ini adalah 27ribu MW atau 40 persen dari potensi panas bumi dunia. Hanya saja, sumber panas bumi itu tidak semuanya memenuhi syarat untuk PLTP konvensional atau skala besar yang dayanya mencapai 110 MW tadi. Sebab, pembangkit skala besar membutuhkan suhu 240 derajat celcius. Ternyata untuk PLTP mini, suhu rendah tidak menjadi masalah.
PLTP mini benar-benar menjadi solusi praktis untuk pengembangan panas bumi di Indonesia, sebab cukup banyak sumber panas bumi yang suhunya kurang dari 240 derajat celcius. Bahkan, sebagaimana yang dilakukan pada uji coba PLTP mini tadi, air buangan dari PLTP besar yang suhunya masih sekitar 180 derajat celcius masih bisa digunakan PLTP mini. Karenanya PLTP mini itu menggunakan teknologi binary cycle.
Selain itu karena ukurannya yang kecil, PLTP mini ini juga bersifat mobile, sehingga bisa dipasang di manapun. Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang mahal dan boros itu bisa digantikan dengan PLTP mini. ”Jika tujuannya menggantikan PLTD maka PLTP ini amat ekonomis,” kata Taufan. Alasannya, harga listrik dari pembangkit diesel adalah Rp 2.500,- hingga Rp 3.000,- per kwH. Sedangkan dari pembangkit mini panas bumi paling mahal Rp 1.000,-.
Menurut Taufan, prinsip kerja PLTP skala besar adalah : sumur produksi menghasilkan uap dan air panas yang dikirimkan ke separator. Separator berfungsi memisahkan fluida air panas dan fluida uap. Dari separator, uap dialirkan untuk memutar turbin, sedangkan air panas diinjeksikan ke dalam bumi. Nah, panas yang masih cukup tingi itu – berupa air dan uap – mengalir ke evaporator. ”Fungsinya menguapkan hidrokarbon yang akan masuk ke turbin,” kata Taufan.
Uap hidrokarbon itu untuk menggerakkan turbin. Selesai bekerja, uap hidrokarbon pemutar turbin diembunkan dengan kondensor. ”Di situ ada air pendinginnya,” katanya.
Hidrokarbon yang telah mencair dipompa ke evaporator. Terpanaskan lagi menjadi uap untuk menggerakkan turbin. Proses ini terus berulang. Itulah yang disebut binary cycle (siklus biner). Namun, kalau misalnya tidak ada buangan dari PLTP besar, maka PLTP mini bisa langsung menggunakan sumur kecil. ”Jika suhu yang keluar dari sumur geothermal itu 100 derajat saja, maka itu sudah bisa digunakan,” katanya.
Satu hal lagi yang menarik, PLTP mini ini juga tidak butuh sumur geothermal yang dalam sebagaimana PLTP skala besar. Jika PLTP skala besar butuh mengebor sumur hingga kedalaman 2.500 meter, maka PLTP mini cukup 500 meter saja. Pengeboran sumur inilah salah satu persoalan besar bagi pembangunan PLTP skala besar karena biayanya sangat mahal. Bayangkan potensi penghematan yang bisa diwujudkan bila PLTP mini dan mobile ini dikembangkan di tanah air.
Iwan Samariansyah/Majalah Eksplo edisi 27 Tahun 2009
Penerapan teknologi PLTP mini memang berbeda dengan PLTP skala besar. Perbedaan utama adalah pada suhu yang dibutuhkan untuk memutar turbin pada pembangkit listrik. PLTP mini karena menggunakan tenaga panas bumi dengan suhu rendah maka hanya bisa memproduksi listrik dengan kapasitas kecil, berkisar 2-5 megawatt. Pemanfaatan energinya berbeda dengan panas bumi temperatur tinggi (sekitar 250 derajat Celsius).
Pada temperatur tinggi, panas bumi dapat menghasilkan uap yang langsung menggerakkan turbin pada generator. Ketika temperaturnya rendah, panas bumi yang ada digunakan untuk mempengaruhi fluida, biasanya berupa amonia ditambah air dan normal pentana. Fluida itu mudah menguap akibat temperatur relatif rendah sehingga kinerjanya dipakai untuk menggerakkan turbin listrik.
Yang menarik adalah kemungkinan menggunakan uap lumpur panas yang ada pada genangan lumpur Lapindo di Sidoarjo. Lumpur panas yang muncul di lokasi pengeboran PT Lapindo Brantas dengan suhu berkisar 60 derajat Celsius itu semestinya juga memungkinkan untuk bisa digunakan bagi prototipe PLTP mini dari BPPT tersebut. Bila itu terwujud maka jelas ini merupakan terobosan besar.
BPPT berhasil mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang mobile dan efisien. Diproyeksikan PLTP mini ini bisa dimanfaatkan untuk memenuhi tenaga listrik daerah terpencil dengan kebutuhan listrik di bawah 10 MW. Lebih ekonomis dan siap menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel. Penghematan BBM-nya mencapai Rp 1,1 trilyun per tahun.
PLTP mini milik BPPT itu telah berhasil diuji coba di lokasi sumur injeksi panas bumi Wayang Windu, Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, beberapa waktu yang lalu. Penerapan teknologi ini berpotensi menggantikan ratusan generator diesel berbahan bakar solar yang ditempatkan Perusahaan Listrik Negara (PLN) di berbagai daerah terisolasi di Tanah Air.
Kapasitas generator diesel yang bisa digantikan oleh PLTP mini tersebut dari hasil uji coba mencapai 300 juta watt. ”Jika menggunakan bahan bakar solar, harganya sangat mahal. Jika menggunakan PLTP mini ini, jauh lebih murah dan ramah lingkungan,” kata Kepala Proyek PLTP Binary Cycle BPPT Taufan Suryana kepada Eksplo yang menemuinya di kantornya, awal Juli lalu.
Menurut Taufan, hasil uji coba ini akan disampaikan kepada pemerintah agar menjadi pertimbangan perubahan kebijakan program Desa Mandiri Energi dengan mengoptimalkan potensi energi lokal panas bumi. Sebab, pemanfaatan panas bumi hingga kini masih terlampau rendah, baru mencapai 1.056 megawatt (MW) atau hanya empat persen dari potensi yang ada sebesar 27.000 MW.
Peneliti BPPT bidang konversi dan sistem energi itu menambahkan, nilai keekonomisan memproduksi listrik dengan PLTP mini jauh lebih rendah dari pembangkit listrik tenaga diesel berbahan bakar solar. Biaya produksi listrik dari PLTP ini berkisar Rp 800 per kilowattjam (kWh), sedangkan dengan generator solar mencapai Rp 2.000 per kWh. PLTP mini berkekuatan 2.000 watt yang masih berbentuk prototipe itu diuji coba selama sepekan di lokasi, dan berhasil bekerja dengan baik.
Taufan mengatakan bahwa pembangkit tersebut nantinya akan disempurnakan lagi sehingga bisa memenuhi harapan berbagai pihak. Semua komponen PLTP mini berukuran 2x2 meter tersebut merupakan kreasi ahli-ahli BPPT. ”Komponen utamanya kami bikin sendiri. Kami berharap apa yang kami lakukan ini akan menginspirasi pemerintah, khususnya Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral untuk memenuhi listrik daerah terpencil,” ujarnya.
Menurut dia, untuk memenuhi kebutuhan daerah terpencil paling sedikit dibutuhkan pembangkit dengan daya antara 2 – 5 MW. Bandingkan hal ini dengan PLTP skala besar yang skala ekonomis tercapai bila bisa menghasilkan daya lebih dari 110 MW. ”Karena itulah kita sebut PLTP mini karena meski daya listrik yang dihasilkan kecil, tetap dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Khususnya di kawasan terpencil,” kata dia.
Saat uji coba dilakukan akhir 2008 lalu, PLTP mini BPPT berkapasitas produksi listrik 2.000 watt itu menggunakan air panas bumi daur ulang. Air panas itu merupakan hasil penggunaan panas bumi yang digunakan sebelumnya untuk PLTP Wayang Windu, berkapasitas besar mencapai 110 juta watt atau 110 MW. PLTP Wayang Windu sendiri pada Maret 2009 telah ditingkatkan kapasitasnya menjadi 220 MW.
Koordinator Lapangan Uji Coba PLTP Mini BPPT, Suyanto, mengatakan, teknologi pemanfaatan kembali panas bumi yang disebut siklus biner ini menggunakan air panas bumi dengan suhu rendah 110 derajat celsius. Semula air panas bumi ini langsung diinjeksikan kembali ke dalam tanah melalui sumur dengan kedalaman sampai 1.500 meter.
”Dari total buangan air panas bumi yang akan diinjeksikan kembali ke dalam tanah mencapai 270 ton per jam, ini berpotensi menghasilkan kembali 8-10 megawatt listrik. Tentu generator yang dibuat harus lebih besar dari prototipe ini,” kata Suyanto.
Peluang untuk membangun PLTP di daerah, kata Taufan lagi, cukup terbuka. Indonesia sangat kaya dengan energi panas bumi sebagai sumber daya alam. Dia menunjuk beberapa provinsi seperti NTB, NTT, Maluku dan Sulawesi Tengah sebagai daerah yang paling siap memanfaatkan teknologi tersebut. ”Masa penggunaan teknologi PLTP mini bisa mencapai 25 tahun,” katanya.
Total energi panas bumi di Indonesia saat ini adalah 27ribu MW atau 40 persen dari potensi panas bumi dunia. Hanya saja, sumber panas bumi itu tidak semuanya memenuhi syarat untuk PLTP konvensional atau skala besar yang dayanya mencapai 110 MW tadi. Sebab, pembangkit skala besar membutuhkan suhu 240 derajat celcius. Ternyata untuk PLTP mini, suhu rendah tidak menjadi masalah.
PLTP mini benar-benar menjadi solusi praktis untuk pengembangan panas bumi di Indonesia, sebab cukup banyak sumber panas bumi yang suhunya kurang dari 240 derajat celcius. Bahkan, sebagaimana yang dilakukan pada uji coba PLTP mini tadi, air buangan dari PLTP besar yang suhunya masih sekitar 180 derajat celcius masih bisa digunakan PLTP mini. Karenanya PLTP mini itu menggunakan teknologi binary cycle.
Selain itu karena ukurannya yang kecil, PLTP mini ini juga bersifat mobile, sehingga bisa dipasang di manapun. Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang mahal dan boros itu bisa digantikan dengan PLTP mini. ”Jika tujuannya menggantikan PLTD maka PLTP ini amat ekonomis,” kata Taufan. Alasannya, harga listrik dari pembangkit diesel adalah Rp 2.500,- hingga Rp 3.000,- per kwH. Sedangkan dari pembangkit mini panas bumi paling mahal Rp 1.000,-.
Menurut Taufan, prinsip kerja PLTP skala besar adalah : sumur produksi menghasilkan uap dan air panas yang dikirimkan ke separator. Separator berfungsi memisahkan fluida air panas dan fluida uap. Dari separator, uap dialirkan untuk memutar turbin, sedangkan air panas diinjeksikan ke dalam bumi. Nah, panas yang masih cukup tingi itu – berupa air dan uap – mengalir ke evaporator. ”Fungsinya menguapkan hidrokarbon yang akan masuk ke turbin,” kata Taufan.
Uap hidrokarbon itu untuk menggerakkan turbin. Selesai bekerja, uap hidrokarbon pemutar turbin diembunkan dengan kondensor. ”Di situ ada air pendinginnya,” katanya.
Hidrokarbon yang telah mencair dipompa ke evaporator. Terpanaskan lagi menjadi uap untuk menggerakkan turbin. Proses ini terus berulang. Itulah yang disebut binary cycle (siklus biner). Namun, kalau misalnya tidak ada buangan dari PLTP besar, maka PLTP mini bisa langsung menggunakan sumur kecil. ”Jika suhu yang keluar dari sumur geothermal itu 100 derajat saja, maka itu sudah bisa digunakan,” katanya.
Satu hal lagi yang menarik, PLTP mini ini juga tidak butuh sumur geothermal yang dalam sebagaimana PLTP skala besar. Jika PLTP skala besar butuh mengebor sumur hingga kedalaman 2.500 meter, maka PLTP mini cukup 500 meter saja. Pengeboran sumur inilah salah satu persoalan besar bagi pembangunan PLTP skala besar karena biayanya sangat mahal. Bayangkan potensi penghematan yang bisa diwujudkan bila PLTP mini dan mobile ini dikembangkan di tanah air.
Iwan Samariansyah/Majalah Eksplo edisi 27 Tahun 2009
Siapkan PLTP Mini 100ribu Watt
SUKSES dengan uji coba protipe PLTP mini dengan daya 2.000 watt membuat Taufan dan kawan-kawan di BPPT bertekad mewujudkan PLTP mini dengan daya yang lebih besar, yaitu dengan daya 100ribu Watt. Ini merupakan langkah antara sebelum pada akhirnya membuat PLTP mini dengan daya 1 MW. Bila pembangkit 1 MW ini terealisir, maka impian untuk menggantikan PLTD berbahan bakar solar akan terwujud.
Biaya pembuatannya memang agak mahal bila dibandingkan dengan PLTP skala besar. Bila PLTP skala besar menghabiskan biaya US$1,8 juta-US$2 juta per MW, maka untuk PLTP mini, dibutuhkan dana sebesar US$2 juta-US$3 juta per MW. Karena itu, untuk membangun PLTP mini dibutuhkan investor yang berani berkorban. Tetapi bila sudah berjalan, PLTP tetap saja menjadi peluang yang menguntungkan.
Penerapan teknologi PLTP mini memang berbeda dengan PLTP skala besar. Perbedaan utama adalah pada suhu yang dibutuhkan untuk memutar turbin pada pembangkit listrik. PLTP mini karena menggunakan tenaga panas bumi dengan suhu rendah maka hanya bisa memproduksi listrik dengan kapasitas kecil, berkisar 2-5 megawatt. Pemanfaatan energinya berbeda dengan panas bumi temperatur tinggi (sekitar 250 derajat Celsius).
Pada temperatur tinggi, panas bumi dapat menghasilkan uap yang langsung menggerakkan turbin pada generator. Ketika temperaturnya rendah, panas bumi yang ada digunakan untuk mempengaruhi fluida, biasanya berupa amonia ditambah air dan normal pentana. Fluida itu mudah menguap akibat temperatur relatif rendah sehingga kinerjanya dipakai untuk menggerakkan turbin listrik.
Yang menarik adalah kemungkinan menggunakan uap lumpur panas yang ada pada genangan lumpur Lapindo di Sidoarjo. Lumpur panas yang muncul di lokasi pengeboran PT Lapindo Brantas dengan suhu berkisar 60 derajat Celsius itu semestinya juga memungkinkan untuk bisa digunakan bagi prototipe PLTP mini dari BPPT tersebut. Bila itu terwujud maka jelas ini merupakan terobosan besar.
Bila pemerintah serius mengadopsi teknologi ini, maka ada dua perusahaan yang mampu menjadi mitra strategis dalam mengembangkan PLTP mini tersebut yaitu PT Pindad dan PT Nusantara Turbin Propulsi (NTP), anak perusahaan PT Dirgantara Indonesia. Pihak NTP sendiri pada satu kesempatan pernah menyatakan kesanggupan mereka memproduksi pembangkit dengan daya 3-5 megawatt.
Memang, teknologi yang diuji coba di Wayang Windu masih sederhana. Hanya saja, dengan kerjasama semua pihak, termasuk juga dalam soal pendanaan maka ke depan nanti, industri dalam negeri bisa mengembangkannya lebih jauh. Apalagi komponen utama untuk PLTP mini tersebut bisa diproduksi sendiri. Karena itu, risetnya harus terus dikembangkan dan ditunjang dengan kebijakan pemerintah.
Iwan Samariansyah/Majalah Eksplo edisi 27 Tahun 2009
Langganan:
Postingan (Atom)

