Rabu, Mei 07, 2008

10 Band Berbakat versi A Mild Live Wanted

ADA undangan press-gathering yang mesti saya datangi hari ini (Rabu, 7/5). Tempatnya di Equinox (X2), Plaza Senayan Lantai 5. Lembar undangan yang saya terima dari Ria Utari, kolega sesama redaktur beberapa hari sebelumnya itu tertera tanda tangan Jesse Sudjana, Supervisor Media Relations Officer PT HM Sampoerna Tbk. sebagai pengundangnya.

Undangan itu adalah pengumuman resmi dari pihak penyelenggara A Mild Live Wanted 2008 mengenai siapa saja grup band yang lolos ke grand final mewakili regional masing-masing tahun ini. Kompetisi musik besar yang rutin digelar sejak 2002 itu digelar di 45 kota di Indonesia, dan menurut rilis pihak penyelenggara, telah terpilih 10 band berbakat mewakili 10 regional yang bakal dilombakan lagi untuk menetapkan band terbaik diantara mereka.

Sayapun berangkat menuju ke kantor di bilangan Rawamangun untuk kemudian berganti naik Busway. Saat menunggu Busway ternyata saya bertemu Grathia Pitaloka, wartawan Jurnal Nasional yang dulu pernah bekerja bersama saat saya menjadi penanggung jawab rubrik Yudikatif. Ternyata dia juga tengah menuju acara yang sama.

Hanya saja, saya mesti mampir sebentar di halter UNJ karena sudah janji dengan seorang kawan lama yang rencananya juga hendak menuju ke Plaza Senayan. Kamipun terpisah. Tetapi saat saya sudah meloncat turun dari busway, datang kabar darinya bahwa dia ada acara lain sehingga batal menemani saya ke Plaza Senayan. Ya sudah, sayapun melanjutkan perjalanan.

Saya tiba di tempat acara sekitar pukul 12.15 WIB. Masih sepi. Belum banyak wartawan yang berkumpul di tempat acara. Bahkan pihak pengundang juga tengah berbenah. Sayapun mengambil tempat duduk di salah satu sofa di pojok ruangan. Sendirian. Seraya menunggu, sayapun berkenalan dengan beberapa wartawan dari media lain sambil bertukar kartu nama. Di sebelah saya malah duduk manajer aktris penyanyi Lilis Karlina. Namanya Novi. Juga ada Mas Haris dari Deteksi Production.

Sekitar pukul 13.30 WIB, para wartawan dari berbagai media, juga sejumlah wakil grup band dipersilahkan makan siang terlebih dahulu. Baru sesudah makan siang, dimulailah acara jumpa pers dengan menampilkan Harry 'Koko' Santoso (Deteksi Productions), Toni Darusman (Brand Manager A Mild), Krisna J Sadrach (Ketua Dewan Juri Nasional) dan Yonathan Nugroho (Managing Director Trinity Optima Production).

Acara grand finalnya sendiri rencananya digelar di Jakarta Hilton Convention Centre (JHCC) pada 11 Mei mendatang. Namun, sebelum itu kesepuluh grup band itu akan mengikuti workshop di Backstage Cafe, Taman Impian Jaya Ancol sebagai bekal bagi mereka untuk terjun ke dunia industri musik kelak. Para finalis juga telah melakukan proses rekaman untuk album kompilasi A Mild Live Wanted 2008 yang diedarkan pada Juni mendatang.

Adapun ke 10 band berbakat yang menjadi finalis tersebut adalah sebagai berikut :

(1) Blast Band yang mewakili regional Jawa Timur dengan lagu "Sembilan Malam"

(2) Butterfly yang mewakili regional Jawa Tengah dengan lagu "Tetap Bertahan"

(3) Magneto yang mewakili regional Indonesia bagian Timur dengan lagu "Bukan Dirinya"

(4) Nyawa yang mewakili regional Kalimantan dengan lagu "Gelisah"

(5) Upe yang mewakili regional Jabodetabek dengan lagu "Coba Bunga yang Lain"

(6) Nukalima yang mewakili regional Jawa Barat dengan lagu "Kesalahan Terbesar"

(7) Larocca yang mewakili regional Sumatera Bagian Selatan dengan lagu "Bantu Aku Melupakanmu"

(8) Mandeez yang mewakili regional Sumatera Bagian Tengah dengan lagu "Rahasia Kita"

(9) Blue Mint yang mewakili regional Sumatera Bagian Utara dengan lagu "Angkuh"

(10) Kanan Lima yang mewakili regional Bali dan Nusa Tenggara dengan lagu "Super Star"

Anak-anak muda yang terhimpun dalam grup band tersebut jelas memberi harapan cerah bagi musik Indonesia masa depan. "Nyatalah kita tidak kekurangan bibit-bibit unggul dalam pengembangan musik di negeri sendiri. Kami percaya bahwa mereka punya talenta yang terbaik mewakili wilayahnya masing-masing. Mereka diseleksi secara ketat. Ada 3.000 CD yang kami terima saat seleksi dimulai," ujar Brand Manager A Mild, Toni Darusman.

Semangat juang ke 10 band finalis ini patut diacungi jempol. Perjalanan mereka untuk mencapai puncak begitu panjang dan berliku. Sesi workshop yang dilaksanakan pada 8 - 9 Mei ini termasuk upaya untuk mempersiapkan mereka menghadapi persaingan sengit di blantika musik tanah air. "Semua band finalis yang masuk ke tahap grand final memiliki keunikan tersendiri, karakter band yang kuat dan lagu yang menjual," ujar Krisna J Sadrach, selaku Ketua Dewan Juri Nasional A Mild Live Wanted 2008.

Saya dan para wartawan lain yang hadir sempat menonton tayangan cuplikan saat mereka bertarung di regionalnya masing-masing. Ada kesan bahwa para grup band tersebut punya gaya yang sama seperti band-band senior pendahulunya seperti Peter Pan, Ungu, dan sebagainya. Bisa jadi ini kesan yang keliru, mengingat apa yang kami saksikan hanyalah cuplikan-cuplikan pendek. Untuk itu saya berniat menyaksikan grand final band tersebut dan sedaya upaya menyaksikan proses work shop mereka di Ancol, bila waktunya memungkinkan.

Barangkali cukup menarik bila nanti dibuat satu tulisan panjang di Majalah terbitan Jurnal Nasional dalam bentuk features soal perjuangan anak-anak muda daerah ini menggapai impian mereka sebagai band yang patut diperhitungkan di blantika musik nasional. Hanya band yang benar-benar berkualitas mampu bertahan dan menunjukkan kemampuannya sebagai the rising star, mengingat begitu ketatnya persaingan yang ada.

(Dilaporkan oleh : Iwan Samariansyah, wartawan Jurnal Nasional).

Jumat, Mei 02, 2008

Hari Pendidikan Nasional

HARI ini 2 Mei 2008 adalah Hari Pendidikan Nasional. Peringatan Hari Pendidikan ini diambil dari hari lahirnya tokoh pendidikan nasional yang menonjol sejak jaman pra kemerdekaan, Ki Hajar Dewantara atau yang bernama asli Soewardi Soerjaningrat. Pendidik kelahiran Yogyakarta, 2 Mei 1889 yang wafat pada 26 April 1959 ini adalah seorang pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia pada jaman kolonial Belanda.

Dilahirkan sebagai bangsawan Jawa, Raden Mas Soewardi bertekad memperbaiki nasib kaum pribumi Jawa melalui jalur pendidikan. Diapun mendirikan perguruan Taman Siswa yang memberikan kesempatan bagi semua orang, terutama rakyat jelata. Maklumlah pada masa kolonial yang berhak memperoleh pendidikan hanyalah kaum priyayi bangsawan dan anak-anak orang Belanda saja.

Soewardi mendirikan Taman Siswa pada tahun 1922 di Yogyakarta. Institusi pendidikan ini kemudian menjadi tonggak sejarah yang penting dalam bidang pendidikan nasional.

Tulisan Ki Hajar Dewantara yang terkenal adalah "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli: Als ik eens Nederlander was), dimuat dalam surat kabar de Expres milik Dr Douwes ekker pada 1913 melambungkan namanya. Artikel ini ditulis dalam konteks rencana pemerintah Belanda untuk mengumpulkan sumbangan dari Hindia Belanda (Indonesia), yang saat itu masih belum merdeka, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis.

Kutipan tulisan tersebut antara lain:

"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan dinegeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlandaer memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun".

Beliau dikenal sebagai Menteri Pendidikan Indonesia yang pertama dan wajahnya bisa dilihat pada uang kertas pecahan Rp20.000. Nama beliau diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Selain itu, sampai saat ini perguruan Taman Siswa yang beliau dirikan masih ada dan telah memiliki sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

Semboyan dalam pendidikan yang beliau pakai adalah: tut wuri handayani. Semboyan ini berasal dari ungkapan aslinya ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Hanya ungkapan tut wuri handayani saja yang banyak dikenal dalam masyarakat umum.

Arti dari semboyan ini secara lengkap adalah: tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik). Semboyan ini masih tetap abadi dan dipakai dalam dunia pendidikan kita.

Gagasan pendidikan dari Ki Hajar Dewantara masih terus relevan sampai pada jaman kemajuan teknologi sekarang ini. Jaman ketika banyak orang terbuai dengan teknologi yang canggih, sehingga melupakan aspek-aspek lain dalam kehidupannya, seperti pentingnya membangun relasi dengan orang lain, perlunya melakukan aktivitas sosial di dalam masyarakat, pentingnya menghargai sesama lebih daripada apa yang berhasil dibuatnya, dan lain-lain.

Dalam abad informasi ini, manusia tidak lagi bebas menumbuhkembangkan dirinya menjadi manusia seutuhnya dengan segala aspeknya. Keberadaan manusia pada zaman ini seringkali diukur dari “to have” (apa saja materi yang dimilikinya) dan “to do” (apa saja yang telah berhasil/tidak berhasil dilakukannya) daripada keberadaan pribadi yang bersangkutan (“to be” atau “being”nya).

Menurut Ki Hajar, dalam pendidikan perlu ditanamkan sejak dini bahwa keberadaan seorang pribadi, jauh lebih penting dan tentu tidak persis sama dengan apa yang menjadi miliknya dan apa yang telah dilakukannya. Sebab manusia tidak sekedar pemilik kekayaan dan juga menjalankan suatu fungsi tertentu.

Pendidikan yang humanis menekankan pentingnya pelestarian eksistensi manusia, dalam arti membantu manusia lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai manusia yang utuh berkembang . Inilah yang menurut Ki Hajar Dewantara harus dikembangkan karena pendidikan juga menyangkut daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif)). Singkatnya, “educate the head, the heart, and the hand !”

Ki Hajar Dewantara senantiasa melihat manusia lebih pada sisi kehidupan psikologiknya, karena manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia.

Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya. Dan ternyata pendidikan sampai sekarang ini hanya menekankan pada pengembangan daya cipta, dan kurang memperhatikan pengembangan olah rasa dan karsa. Jika berlanjut terus akan menjadikan manusia kurang humanis atau manusiawi.

Dari titik pandang sosio-anthropologis, kekhasan manusia yang membedakannya dengan makhluk lain adalah bahwa manusia itu berbudaya, sedangkan makhluk lainnya tidak berbudaya. Maka salah satu cara yang efektif untuk menjadikan manusia lebih manusiawi adalah dengan mengembangkan kebudayaannya. Persoalannya budaya dalam masyarakat itu berbeda-beda.

Ki Hajar Dewantara sendiri dengan mengubah namanya ingin menunjukkan perubahan sikapnya dalam melaksanakan pendidikan yaitu dari satria pinandita ke pinandita satria yaitu dari pahlawan yang berwatak guru spiritual ke guru spiritual yang berjiwa ksatria, yang mempersiapkan diri dan peserta didik untuk melindungi bangsa dan negara.

Bagi Ki Hajar Dewantara, para guru hendaknya menjadi pribadi yang bermutu dalam kepribadian dan kerohanian, baru kemudian menyediakan diri untuk menjadi pahlawan dan juga menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa. Dengan kata lain, yang diutamakan sebagai pendidik pertama-tama adalah fungsinya sebagai model atau figure keteladanan, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar.

Oleh karena itu, nama Hajar Dewantara sendiri memiliki makna sebagai guru yang mengajarkan kebaikan, keluhuran, keutamaan. Pendidik atau Sang Hajar adalah seseorang yang memiliki kelebihan di bidang keagamaan dan keimanan, sekaligus masalah-masalah kemasyarakatan. Modelnya adalah Kyai Semar yang sukses menjadi perantara antara Tuhan dan manusia, mewujudkan kehendak Tuhan di dunia ini.

Sebagai pendidik yang merupakan perantara Tuhan maka guru sejati sebenarnya adalah berwatak pandita juga, yaitu mampu menyampaikan kehendak Tuhan dan membawa keselamatan. Manusia merdeka adalah tujuan dari pendidikan nasional kita. Merdeka baik secara fisik, mental dan kerohanian.

Suasana yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan adalah suasana yang berprinsip pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati, cintakasih dan penghargaan terhadap masing-masing anggotanya. Maka hak setiap individu hendaknya dihormati; pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk menjadi merdeka dan independen secara fisik, mental dan spiritual.

Pendidikan juga hendaknya tidak hanya sekedar mengembangkan aspek intelektual sebab akan memisahkan dari orang kebanyakan. Pendidikan hendaknya memperkaya setiap individu tetapi perbedaan antara masing-masing pribadi harus tetap dipertimbangkan. Pendidikan hendaknya memperkuat rasa percaya diri, mengembangkan hara diri. Setiap orang harus hidup sederhana dan guru hendaknya rela mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadinya demi kebahagiaan para peserta didiknya.

Metode yang yang sesuai dengan sistem pendidikan ini menurut Ki Hajar adalah sistem among yaitu metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh (care and dedication based on love).

Guru yang efektif memiliki keunggulan dalam mengajar (fasilitator); dalam hubungan (relasi dan komunikasi) dengan peserta didik dan anggota komunitas sekolah; dan juga relasi dan komunikasinya dengan pihak lain (orang tua, komite sekolah, pihak terkait); segi administrasi sebagai guru; dan sikap profesionalitasnya. Sikap-sikap profesional itu meliputi antara lain: keinginan untuk memperbaiki diri dan keinginan untuk mengikuti perkembangan zaman.

Maka penting pula membangun suatu etos kerja yang positif yaitu: menjunjung tinggi pekerjaan; menjaga harga diri dalam melaksanakan pekerjaan, dan keinginan untuk melayani masyarakat. Dalam kaitan dengan ini penting juga performance/penampilan seorang profesional: secara fisik, intelektual, relasi sosial, kepribadian, nilai-nilai dan kerohanian serta mampu menjadi motivator. Singkatnya perlu adanya peningkatan mutu kinerja yang profesional, produktif dan kolaboratif demi pemanusiaan secara utuh setiap peserta didik.