Selasa, Agustus 02, 2011

Catatan Mengenai Wawancara Iwan Piliang dan Nazaruddin

Saat Muhammad Nazaruddin muncul di Televisi
Oleh : Arya Gunawan

Meskipun sudah terlambat, dan topik utama agaknya kini telah bergeser ke hal yang lain lagi, izinkanlah saya ikut memberikan komentar mengenai wawancara Bung Iwan Piliang dengan M. Nazaruddin (selanjutnya kedua nama ini secara berurutan saya singkat sebagai IP dan MN). Saya ingin membahas masalah disiplin penting jurnalistik yaitu verifikasi.

Ada dua tahap verifikasi, yakni tahap verifikasi terhadap narasumber dan tahap verifikasi terhadap keabsahan informasi yang disampaikan oleh si narasumber. Mari kita tilik tahap pertama terlebih dahulu. Pada tahap
ini, wartawan perlu menggali latar belakang narasumber, baik itu latar belakang jatidirinya, latar belakang mengenai informasi yang dimiliki narasumber, dan latar belakang apa gerangan yang membuat dia bersedia
dijadikan narasumber. Apakah benar-benar murni karena ingin membagi informasi yang penting diketahui publik, ataukah dilandasi motif tersembunyi yang akan menguntungkan dirinya dan/atau akan menyebabkan kerugian pada diri orang lain.

Tahap pertama ini penting, namun terkadang wartawan menjalaninya sebagai sesuatu yang "taken for granted" alias menganggap mudah dan enteng. Mengapa penting? Sebab, bisa ada kemungkinan bahwa narasumber yang dipakai adalah narasumber yang tidak tepat (misalnya - ini contoh fiktif -- seorang apoteker diminta memberikan pandangan mengenai situasi politik), atau bahkan narasumber yang tidak otentik alias palsu. Jika narasumbernya "palsu" maka hampir dapat dipastikan seluruh informasi yang akan dia jembrengkan juga akan palsu. Sedangkan kalau jatidiri narasumber sudah dipastikan keabsahannya, maka setidaknya potensi sang wartawan untuk berhadapan dengan kepalsuan hanya tinggal setengahnya (yakni jika informasi yang diberikan narasumber ternyata berisi kebohongan).

Salah satu kejadian nyata yang terkenal terkait dengan narasumber "palsu" ini adalah kasus BBC yang tertipu mentah-mentah dan telak oleh seorang aktivis sosial yang mengaku diri sebagai petinggi di perusahaan kimia
Union Carbide. Perusahaan ini adalah penyebab malapetaka di Bhopal, India, ketika pabrik kimianya yang berlokasi di sana mengalami kebocoran dan menyebarkan 40 ton gas beracun yang mematikan. Peristiwa pada tanggal 2-3 Desember 1984 itu merenggut lebih dari 3.000 jiwa, dan 12 ribuan lainnya menderita berbagai penyakit terkait gas beracun tersebut.

Urusan ganti-rugi untuk para korban merupakan salah satu persoalan yang terus menggantung dan tak terpecahkan, meskipun tahun 1989 Union Carbide memberikan kompensasi kepada pemerintah India sebesar 470 juta dollar Amerika Serikat. Tahun 2001, Union Carbide dibeli oleh perusahaan Dow Chemical. Untuk informasi lebih rinci mengenai ini silakan lihat ini: http://en.wikipedia.org/wiki/Bhopal_disaster

Lalu datanglah tanggal itu, 3 Desember 2004. Saya masih ingat samar-samar. Pada petang hari di tanggal itu, saya baru merebahkan badan yang letih di salah satu kamar di hotel sederhana di kota Cebu, Filipina Selatan. Seharian itu saya mengikuti satu acara berkaitan dengan keselamatan wartawan di wilayah Filipina Selatan yang terus dibelit konflik.

Acara itu dilaksanakan oleh Centre for Media Freedom and Responsibilities (CMFR) dengan dukungan UNESCO. Saya menyalakan pesawat teve, mencari saluran berita BBC. Dan tiba-tiba rasa letih yang sempat menyergap tubuh mendadak nyaris sirna, ketika di layar tampil wawancara langsung antara presenter BBC di studio di London, dengan seorang pria yang berada di Paris. Si pria yang ditampilkan di layar dalam dandanan yang rapi adalah juru bicara dari perusahaan Dow.

Isi wawancara adalah mengenai tragedi Bhopal. Rupanya BBC merencanakan wawancara tersebut untuk memperingati 20 tahun terjadinya tragedi itu. Saya menyimak wawancara tersebut dengan saksama karena isinya sangatlah menarik. Kira-kira intinya adalah : si juru bicara menegaskan bahwa perusahaan Dow Chemical akan memberikan ganti rugi bagi para korban.

Ini tentu saja menjadi berita sangat besar pada hari itu, bahkan sempat mengalahkan berita mengenai longsor akibat hujan lebat yang melanda beberapa kawasan di Filipina.
Namun malam harinya, selang beberapa jam dari wawancara tersebut, BBC menyiarkan berita lanjutan mengenai wawancara tersebut: mengakui bahwa mereka telah menjadi korban penipuan si pria yang mengaku sebagai juru bicara Dow Chemical itu.

Ternyata BBC telah ditelepon oleh seorang beberapa waktu sebelumnya (tak disebutkan apakah pria yang menelepon adalah orang yang sama dengan yang mengaku sebagai juru bicara Dow). pria menyebutkan bahwa akan ada pengumuman penting yang akan disampaikan oleh Dow Chemical di hari peringatan 20 tahun tragedi Bhopal.

Atas kejadian yang menghebohkan sekaligus memalukan bagi salah satu lembaga penyiaran paling berpengaruh itu, BBC minta maaf kepada Dow, kepada khalayak, dan terutama kepada korban tragedi Bhopal yang telah merasa senang karena mengetahui bahwa mereka akan menerima ganti-rugi.

Saat menyiapkan komentar saya ini, karena tak mampu untuk menggali lagi ingatan saya secara utuh dan rinci mengenai wawancara yang saya di BBC pada petang hari di awal Desember 2004 itu, saya meriset di google dan menemukan informasi yang lengkap mengenai wawancara ini. Si pria yang mengaku sebagai juru bicara Dow itu menggunakan nama Jude Finisterra saat wawancara.

Ia adalah bagian dari duet aktivis sosial yang menamakan diri mereka The Yes Men, dengan niat memberikan berbagai "pelajaran" kepada kelompok mapan (baik itu perusahaan, tokoh terkemuka). Nama Oom Jude ini dalam duetnya tersebut adalah Andy Bichlbaum (ini pun ternyata masih nama samaran juga. Nama aslinya Jacques Servin). Bagi yang tertarik dan ingin mengetahui lebih jauh mengenai sepak terjang The Yes Men, termasuk "pelajaran" yang diberikan Oom Jude kepada BBC seperti telah disampaikan di atas, bisa mengakses tempat ini: http://en.wikipedia.org/wiki/The_Yes_Men

Sejak berbulan-bulan sebelumnya The Yes Men menyiapkan rencana "mengerjai" BBC ini, lebih dilandasi niat untuk memberikan peringatan kepada Union Carbide/Dow Chemical bahwa ganti-rugi bagi para korban Bhopal belum ditangani dengan baik. Tindakan mereka ini sempat membuahkan hasil, karena tak lama setelah BBC menayangkan wawancara tersebut, harga saham Dow anjlok sampai dua milyar dollar AS.

Ilustrasi di atas menunjukkan secara jelas bahwa narasumber pun harus diverifikasi. Banyak memang jenis narasumber, mulai narasumber yang tidak jelas juntrungannya, narasumber yang tidak tepat, narasumber sengaja menyesatkan (seperti dalam kasus BBC di atas), bahkan yang benar-benar fiktif ataupun hasil rekayasa. Contoh terkenal untuk kelompok narasumber yang disebutkan terakhir ini tentu saja Jimmy, sang anak lelaki berusia 8 tahun yang menggunakan obat terlarang, sebagai hasil imajinasi Janet Cooke.

Tokoh Jimmy ini ditulis oleh Tante Janet (sekarang sih sudah jadi nenek-nenek, karena usianya sudah 57 tahun) satu karya reportase jurnalistik untuk The Washington Post (koran tempat Janet bekerja), pada edisi 28 September 1980. Wawancara ini membuatnya diganjar penghargaan bergengsi Pulitzer. Belakangan terungkap bahwa tokoh Jimmy tak pernah ada di dunia nyata.

Kita semua tahu, bahwa The Washington Post sangat dipermalukan, penghargaan Pulitzer dikembalikan dan Janet menjadi pariah di dunia jurnalisme. Tak diterima lagi bekerja sebagai wartawan di media apapun. Silakan kunjungi tautan berikut bagi yang ingin mengetahui cerita ini lebih jauh: http://en.wikipedia.org/wiki/Janet_Cooke

Contoh lainnya adalah sejumlah hasil reportase fiktif dan rekayasa wartawan The New York Times, Jayson Blair: http://en.wikipedia.org/wiki/Jayson_Blair

Untuk konteks Indonesia bisa kita sebutkan, antara lain, narasumber "istri Dr Azhari" yang diwawancarai oleh wartawan Jawa Pos dan dimuat koran tersebut tahun 2005. Belakangan diketahui bahwa wawancara fiktif. Bisa dicek antara lain di lokasi ini: http://groups.yahoo.com/group/plastik_pema/message/2

Selain memastikan bahwa narasumber yang akan diwawancarai adalah narasumber yang tidak palsu, apalagi fiktif, seorang wartawan juga memastikan latar belakang jatidiri sang narasumber. Apakah benar sang narasumber memiliki kepakaran di bidang yang akan menjadi topik wawancara; juga apakah sang narasumber layak dipercaya (apakah dia dikenal sebagai seseorang yang bersih dengan integritas yang terjaga, ataukah pernah punya catatan kelam).

Ini perlu dilakukan untuk memastikan bahwa sang wartawan tidak mudah terjebak, dan akhirnya "dimanfaatkan" oleh narasumber untuk kepentingan sang narasumber, lagi untuk kepentingan publik. Namun perlu juga dicatat di sini bahwa ihwal bersih-tidaknya seseorang, bukan unsur mutlak untuk melanjutkan atau membatalkan wawancara.

Kriteria ini hanya menjadi pemandu lebih lanjut bagi wartawan, bahwa jika si narasumber diketahui memiliki latar belakang yang meragukan, maka si wartawan harus lebih menajamkan radar kehati-hatiannya. Banyak sekali sebenarnya contoh narasumber yang sebetulnya "tidak bersih-bersih amat" namun tetap dijadikan narasumber utama, dan bahkan kemudian memberikan informasi yang sangat penting dan berharga.

Salah satu yang terkenal untuk kasus ini, dalam konteks Indonesia, adalah Vincentius Amin Sutanto. Vincentius yang digunakan sebagai narasumber utama oleh Majalah Tempo saat mengungkap skandal tuduhan penggelapan pajak Asian Agri (2007). Atau yang lebih mutakhir lagi ihwal nyanyian mantan Kabareskrim Polri Susno Duaji (dalam skandal mafia kasus alias markus dalam skandal penggelapan pajak) dan Gayus Tambunan (juga dalam kasus penggelapan pajak).

Jadi, MN tentu obyek yang sah untuk diwawancarai. Memang tetap selalu terbuka kemungkinan bahwa narasumber menyediakan informasi bagi seorang wartawan seraya berharap akan memetik langsung maupun tak langsung dari berita yang akan ditulis oleh si wartawan. Bisa diajukan satu contohnya di sini, yakni dalam liputan Majalah Tempo mengenai skandal Bulog Gate II yang melibatkan Akbar Tandjung (dan membuatnya sempat mendekam dua hari di Gedung Bundar Kejaksaan Agung) di tahun 2001.

Sebagian kita tahu bahwa Tempo memperoleh sebagian besar informasi mengenai skandal tersebut dari di dalam tubuh Golkar sendiri yang berseberangan dengan kelompok Akbar Tanjung.

Dengan menggunakan kerangka di atas, saya - dan mungkin juga kita -- sepakat bahwa Bung IP sudah melakukan verifikasi tahap pertama memastikan bahwa narasumbernya tidak palsu). Dan ia melakukan itu cara yang relatif baru, setidaknya dalam konteks kasus MN, mengingat sebelum wawancara IP itu belum ada media lain yang bisa menghadirkan secara fisik; media hanya bisa menyajikan suaranya saja. Atau penggalan-penggalan isi pesan sms yang dikirim MN ke pihak media, atau ke pihak lain.

Apalagi kemudian berdasarkan catatannya yang disebarkan lewat sebuah milis, Bung IP memperlihatkan bahwa upaya yang dia tempuh tiba pada momen wawancara tersebut bukanlah seruas jalan yang mulus, melainkan cukup berliku. Itu sebabnya upaya Bung IP, menurut hemat patut dicatat dan dihargai. Itu pula yang menjadikan alasan saya untuk ikut memberikan pujian kepadanya beberapa waktu setelah catatan berisi upayanya itu dia posting di milis kita ini.

Memang, walaupun MN telah ditampilkan oleh Bung IP lewat perantara Skype(salah satu bentuk teknologi media-baru, yang di bagian akhir tulisan ini akan saya komentari juga) sejumlah pertanyaan tetap bisa diajukan dalam kaitan dengan kerangka teori mengenai narasumber. Misalnya saja: benarkah sosok yang tampil dalam wawancara itu adalah MN yang sebenarnya? Atau jangan-jangan orang lain yang mirip MN? Siapa yang bisa memastikan bahwa itu adalah MN, sedangkan dia tidak berada di dekat si pewawancara?

Ini tentu pertanyaan sah, namun menjawabnya rasa-rasanya juga tidaklah terlalu rumit. Sebab pengecekan silang bisa dilakukan lewat karakter suaranya (dan bahkan bisa dipastikan lewat pengecekan dengan membandingkan suara dalam wawancara Bung IP itu dan suara MN yang sudah pernah diperoleh lewat arsip-arsip wawancara dengannya selama ini.

Atau bisa juga muncul pertanyaan atau gugatan yang lebih fundamental, bahwa tak ada kepentingan publik dalam wawancara Bung IP dan MN itu. Tidak mudah menjawab tuntas gugatannya ini, namun secara sederhana saya ingin menjawabnya : bagi saya unsur kepentingan publik tetap ada dalam wawancara tersebut, terutama dalam hal keberhasilan Bung IP menyeret sosok MN dalam bentuk fisiknya yang utuh (bukan sekadar suara) ke ranah publik.

Alasan utama saya adalah: pihak berwenang tak juga berhasil menghadirkan MN, jangankan pula mencokoknya, maka untuk sementara ini kepentingan publik dalam derajatnya yang tertinggi. Yang saat ini bisa kita dapatkan lewat wawancara Bung IP itu adalah sesuatu yang ingin saya istilahkan sebagai "kepentingan antara", yang dapat mengarah atau membawa publik kepada kepentingan dalam derajatnya yang tertinggi tadi itu. Apa gerangan "kepentingan antara" tersebut? Ya menghadirkan MN, termasuk dengan cara apapun yang masih diizinkan dalam koridor legal.

Beberapa kemungkinan manfaatnya, kira-kira sebagai berikut :
  1. Bisa menunjukkan betapa "tak berdayanya" polisi dan aparat hukum lainnya dalam memburu MN (sampai harus menderita kalah telak dan dipermalukan oleh seorang IP). Ini kian memperkuat dugaan sebagian kalangan bahwa jangan2 memang ada konspirasi untuk tidak menghadirkan MN; 
  2. Informasi yang disampaikan semestinya bisa dijadikan petunjuk awal bagi aparat hukum untuk bertindak, kendati belum bisa menghadirkan atau mencokok MN secara langsung;
  3. Wartawan - sebagai bagian dari publik - mendapatkan pelajaran dalam hal kegigihan berburu narasumber dari upaya Bung IP.
Menurut hemat saya, di hari-hari sekarang ini pada saat tiada pergerakan yang berarti yang dilakukan oleh aparat penegak hukum untuk meninjaklanjuti kasus MN ini, maka apapun yang terkait dengan MN bisa dianggap sebagai hal yang penting bagi publik. Ini sama halnya dengan kasus Nunun Nurbaeti; bagi saya apapun hal-ihwal yang menyangkut sang perempuan yang satu ini, layak untuk disajikan ke ruang publik, sebab saya meyakini bahwa dengan cara ini peluang untuk mencokoknya akan lebih terbuka, tinimbang jika dibiarkan tetap berada di ruang gelap.

Ocehan MN, misalnya, bisa saja memancing munculnya kontra-ocehan yang informasi atau petunjuk penting yang tersembunyi, baik itu mengenai keberadaan fisik MN sendiri, maupun mengenai jejalin kasus kebusukan yang terjadi dalam pembangunan Wisma Atlet yang menjadi dasar dan asal muasal dari seluruh bangunan kekisruhan ini.

Sekarang mari kita masuk ke verifikasi tahap kedua, yakni verifikasi mengenai isi informasi yang disampaikan oleh seorang narasumber. Dalam konteks ini, jika merujuk pada pokok-pokok pikiran Farid Gaban sejumlah analisis wartawan lainnya yang senada dengannya, maka tampaknya Bung IP belum maksimal dalam melakukan verifikasi tahap kedua ini. Namun sekali lagi, bagi saya, itu tidak mengurangi penghargaan saya terhadap kerja keras dan sikap pantang menyerah yang dimiliki Bung IP.

Dan tentang verifikasi informasi ini, jelas ia merupakan tahapan yang lebih sulit dibandingkan verifikasi narasumber. Lihat misalnya tuduhan dan kontra-tuduhan yang berseliweran dalam sejumlah kasus yang membelit negeri kita belakangan ini. Misalnya saja soal nyanyian Gayus. Apakah sempat wartawan memverifikasi berbagai tuduhan dan kontra-tuduhan itu? Sebagian besar saya yakin tidak sempat melakukannya, walaupun memang idealnya wartawan harus melakukan itu. Namun informasi itu tetap diberitakan oleh media.

Contoh lain juga bisa diajukan, termasuk untuk liputan-liputan profil seseorang. Sebagian besar wartawan pastilah akan mencatat saja kisah-kisah yang disampaikan oleh sang tokoh yang tengah mereka wawancarai, meskipun bisa jadi cerita-cerita itu sebagian mungkin dibesar-besarkan, ditambah-tambahi, didramatisasi, dilebih-lebihkan, atau bahkan mungkin fiktif sama sekali.

Ini juga yang terjadi dalam tulisan-tulisan yang bersifat otobiografi ataupun memoar. Keraguan ataupun bantahan baru akan diutarakan setelah karya terbit, baik lewat cara yang sederhana (dengan menulis surat pembaca, misalnya, ataukah dengan tampil di media lain, termasuk televisi), ataukah dengan cara yang lebih tidak sederhana, yakni lewat penerbitan memoar tandingan.

Inilah yang terjadi, misalnya dengan buku Habibie, Detik-Detik yang Menentukan (2006), atau buku Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009). Kedua buku ini memberikan catatan yang merugikan bagi Probowo Subianto, dan bereaksi saat dihadirkan dalam berbagai wawancara di televisi. Dia juga menyebutkan akan memberikan bantahan lewat buku.

Contoh-contoh ini saya kemukakan untuk menunjukkan bahwa memang bukanlah perkara mudah untuk melakukan verifikasi informasi ini. Ia memerlukan proses dan memakan waktu. Namun memang seorang pewawancara hendaknya menyiapkan berbagai upaya untuk verifikasi ini pada kesempatan pertama (artinya saat wawancara sedang berlangsung).

Dalam kasus wawancara IP dengan MN itu, Bung IP misalnya bisa mempertanyakan lebih jauh apa-apa yang disampaikan MN, meminta klarifikasi, memberikan berbagai kontra-argumen, atau meminta MN menunjukkan bukti-bukti keras mengenai ocehan-ocehannya yang dia sampaikan secara terbuka itu.

Ada beberapa teknik yang lazim dipakai seorang pewawancara untuk melakukan verifikasi on-site seperti ini. Misalnya saja yang biasanya dipraktekkan oleh para wartawan BBC, yakni dengan mencegat langsung di narasumber : "dari mana anda mendapatkan informasi tersebut? "; atau: "Apa bukti2 yang sekarang sudah ada di tangan anda sehingga membuat berani mengemukakan informasi ini?"; bisa juga: "Oh iya, apakah demikian? Saya sendiri belum pernah mendengar tentang itu. Ini klaim Anda lho ya, dan anda harus siap mempertanggungjawabkannya.”

Cara seperti ini terakhir saya lihat dilakukan oleh Zeinab Badawi saat menjadi presenter acara BBC News beberapa malam lalu, ketika dia mewawancarai secara langsung di studio BBC di London seorang yang berasal dari kubu pemberontak Benghazi dalam konteks berita mengenai perang Libya.

Sang narasumber menyampaikan satu informasi yang menjelek-jelekkan kubu pemerintah Ghadaffy, dan Zeinab mencecernya dengan pertanyaan: "Wah, dari mana Anda mendapatkan informasi yang bagi saya sama sekali baru ini?". Mohon maaf, saya tidak menangkap dengan teliti ihwal spesifik yang disebutkan oleh si narasumber, karena saya mendengarnya sambil menerima telepon dari seseorang. Namun saya tahu ketika Zeinab mencecarnya dengan pertanyaan seperti yang saya sebutkan di atas.

Sekarang tibalah saya pada bagian akhir dari catatan saya ini, dan seperti yang telah saya singgung di atas, pada bagian ini saya hendak menyajikan konteks yang lebih besar, dimana wawancara Bung IP dengan dengan berbagai aspeknya yang kemudian menjadi bahan perbincangan menarik dan mencerahkan dari para anggota milis ini, sebetulnya merupakan fenomena puncak gunung es. Adapun gunung es yang raksasa itu adalah: bagaimana media dan jurnalis menempatkan diri di tengah kemunculan pesan berbagai media-baru.

Perkembangan sangat cepat yang terjadi di bidang teknologi media-baru (mencakup Internet, telepon genggam, Facebook, Twitter, Flickr, termasuk juga Skype) telah menempatkan jurnalisme dalam satu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kemunculan dari berbagai media-baru itu mau tak mau menuntut pula perubahan dalam cara kerja jurnalistik, baik dalam hal mendapatkan sumber berita, mencari dan menggali bahan itu lebih jauh, dan juga dalam hal proses penyebarluasan/distribusi berita. Perkembangan ini juga menyajikan sekaligus dua sisi: sisi positif dan sisi negatif, sesuatu yang memang selalu terjadi dalam setiap perubahan.

Sisi positifnya mencakup kemudahan untuk mendapatkan informasi, untuk peristiwa-peristiwa yang terjadi mendadak (bencana alam, kerusuhan, konflik sosial), sekaligus memudahkan proses distribusinya kepada khalayak (lewat media online yang dapat dimutakhirkan setiap saat). Kehadiran media-baru ini juga memacu persaingan yang semestinya dapat meningkatkan semangat kerja jurnalis untuk menghadirkan tayangan yang tidak biasa dan "tercepat".

Namun pada saat yang sama, aspek-aspek positif yang disebutkan di atas juga berpeluang untuk melahirkan berbagai persoalan, misalnya akurasi yang terkorbankan karena lebih mementingkan kecepatan semata-mata sehingga lalai untuk menempatkan verifikasi sebagai prioritas utama. Kemudahan penggunaan teknologi media-baru ini juga melahirkan godaan untuk mendapatkan berita dengan cara-cara yang melanggar etika, bahkan melanggar hukum.

Contohnya adalah skandal penyadapan mesin perekam pesan di pesawat telepon, yang hari-hari ini tengah melilit Rupert Murdoch dan kerajaan medianya, News Corp./News International. Semakin kerap khalayak disuguhkan berita-berita yang isinya bisa menimbulkan keraguan, dan kesulitan melakukan verifikasi kini seolah-olah sudah sebagai sesuatu yang dapat dihindarkan dan tak bisa diatasi.

Lihatlah misalnya berita-berita televisi yang terkait dengan berbagai kerusuhan di negara-negara Arab, yang biasanya menunjukkan berbagai kebrutalan rezim setempat. Layar menghadirkan gambar-gambar yang memprihatinkan itu (misalnya demonstran yang lari berhamburan ditingkahi suara tembakan beruntun, ada beberapa demonstran yang terjatuh karena terkena tembakan).

Lalu presenter membingkainya dengan kalimat sbb: "kami tidak dapat mendapatkan verifikasi apapun terhadap kebenaran/keabsahan gambar2 ini." Atau: dari gambar2 ini tidak dapat kami jamin." Atau kalimat semacamnya.

Mengapa tak bisa diverifikasi? Sebab gambar-gambar itu diperoleh dari situs-situs media sosial, terutama youtube, yang diupload oleh warga biasa dengan memanfaatkan berbagai perangkat teknologi yang memunculkan fenomena "media baru" tadi. Lumayan ironis rasanya melihat gejala ini bahwa teknologi-teknologi baru bermunculan dan seperti memberikan banyak kemudahan bagi para pekerja media.

Namun pada saat yang sama ia juga menghadirkan kesulitan bagi para pekerja yang sama untuk melakukan pembuktian mengenai keabsahan berita yang mereka produksi/susun sendiri, dengan menyandarkan pada bahan yang diperoleh dari pihak lain dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang sama. Mungkin bisa saja verifikasi dilakukan jika tersebut memuat juga sesuatu yang khas dari tempat dimana peristiwa terjadi.

Misalnya, dalam contoh fiktif berikut, ada tank yang sedang bergerak ke arah sekumpulan demonstran, lalu tampak gambar Monas di latar belakang, maka khalayak bisa diajak untuk percaya bahwa peristiwa terjadi di Jakarta Pusat di sekitar kawasan Monas. Itu pun tetap tersisa ruang untuk syak wasangka: bagaimana jika gambar Monas itu merupakan hasil rekayasa? Bagaimana jika itu merupakan kejadian lain dalam waktu sama sekali terpaut jauh/berbeda? Namun jika tidak ada penanda yang unik dan spesifik dalam potongan gambar yang disajikan kepada khalayak dengan memperolehnya dari media-media sosial, maka tak ada jaminan bahwa gambar tersebut asli. Dan media tetap saja memuatnya.

Beberapa contoh non-fiktif terkorbannya verifikasi yang menunjukkan persoalan serius yang dihadapi wartawan di tengah-tengah banjirnya media-baru : 

1. Kasus Amina Arraf :      
Kasus ini muncul di awal Juni 2011, tentang seorang blogger lesbian bernama Amina Arraf yang disebut bermukim di Suriah. Blognya diberinya judul "A Gay Girl in Damascus." Perhatian media muncul sejak yang menceritakan bahwa dia diculik oleh tiga orang pria. Media massa memberitakannya, tanpa melakukan pengecekan lengkap mengenai jatidiri Amina. Berita tersebut memang memiliki daya tarik yang kuat, mengingat Suriah sedang dilanda krisis politik. Untunglah ada wartawan yang kritis dan meragukan jatidiri Amina. 
Program Newsnight di tevelisi BBC yang malam itu dipandu oleh salah seorang presenter favorit saya, Jeremy Paxman, misalnya, berhasil menghadirkan seorang perempuan bernama Lecic, asal kawasan Balkan, yang bermukim di Inggris. Foto Jelena ternyata dipakai (dicuri) untuk dipasang di blog Amina sebagai foto Amina. Belakangan terungkap bahwa blog tersebut dibuat oleh Tom MacMaster, seorang mahasiswa asal Amerika yang sedang menunut ilmu di Skotlandia. Tom kemudian menyatakan bertanggung jawab, dan meminta maaf atas perbuatannya itu. Ini contoh lainnya dari pentingnya verifikasi tahap pertama (yakni verifikasi terhadap narasumber), mirip halnya dengan kasus hoax yang dialami BBC pada contoh di awal tulisan ini.  

2. Kasus Pemerkosaan Libya :  
Laporan tersebut dibuat oleh wartawati CNN yang berbasis di Kairo, Sara Sidner, didasarkan pada rekaman dari kamera HP yang disebut berasal dari tentara pemerintah, yang menggambarkan wanita tengah disodomi dengan tongkat oleh seorang pria. Sang korban berteriak, "cukup" Lalu terdengar suara wanita lain di belakang: "Teruskan, teruskan". Saat ditayangkan di CNN, rekaman itu dikaburkan. Prianya tak berseragam militer. 
Dari "verifikasi" yang dilakukan si wartawati, dialek sang korban adalah dialek Tripoli (untuk memperkuat kesimpulan bahwa perbuatan tersebut dilakukan oleh pendukung Ghadaffy.) Sang wartawati kemudian mewawancarai juru bicara pemberontak, yang juga membenarkan banyaknya tindakan semacam itu. Bahkan menyebutkan bahwa pemberontak berhasil menyita banyak HP milik tentara pemerintah. 
Namun jumlah HP yang disebutkan mencapai 200-an unit, yang berisi rekaman berbagai adegan keji itu, dihancurkan oleh kaum pemberontak karena sensitivitas budaya di Libya. Pemerkosaan adalah perbuatan yang membuat malu keluarga. Banyak yang tak mau melaporkan karena akan menanggungkan aib dan korban korban akan sulit mendapatkan pasangan hidup. 
Sang wartawati juga menyebutkan bahwa dia sulit melakukan verifikasi. Justru bagi saya di sini masalahnya. Ini bukan perkara sederhana. Dan sangat ampuh sebagai alat propaganda untuk merusak dan menghancurkan citra kubu pemerintah, dan dijadikan alasan untuk membawa Ghadaffy ke muka pengadilan internasional. Seyogianya sang wartawati mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis berikut ini yang mungkin akan meredam niatnya untuk dengan serta-merta menyiarkan berita tersebut :
    1. Bisa saja itu direkayasa ;
    2. Bisa juga itu rekaman film porno masa lalu ;
    3. Bisa jadi itu film porno yang dibuat baru-baru ini ;
    4. Bisa juga itu memang perkosaan namun bukan dalam konteks Libya ;
    5. Harusnya tak usah disamarkan wajah mereka, setidaknya wajah pelakunya, sehingga bisa diverifikasi.
Untunglah beberapa hari kemudian berita ini hilang begitu saja. Barangkali CNN belakangan menyadari bahwa ada sejumlah kejanggalan isi berita tersebut, meskipun CNN tidak pernah mengakuinya, jangankan pula meminta maaf.

Saya kira, solusi umum terhadap situasi "fenomena gunung es baru" ini dan membuat kita cemas pada kebenaran yang disajikan oleh sebuah laporan jurnalisme baik di media cetak maupun elektronik adalah :
  • Wartawan harus dituntut ekstra hati-hati secara individual, jangan sampai cepat tergoda untuk mencari bahan berita dengan cara salah, atau untuk menelan mentah mentah informasi yang awalnya berasal dari media-baru. Bahan-bahan tersebut hanya bisa dijadikan bahan awal, yang menunut langkah lanjutan yakni verifikasi.
  • Secara kelembagaan, panduan baru di bidang etika jurnalisme berkaitan dengan media-baru, harus segera dirumuskan secara lengkap rinci.
  • Pendidikan jurnalisme juga harus memasukkan berbagai perkembangan baru ini dalam kurikulum mereka.